Film M. Night Shyamalan, The Sixth Sense, melambungkan sutradaranya menjadi bintang semalam. Kebanyakan orang yang menonton film ini tidak akan pernah melupakan kejutan yang mereka rasakan ketika trik terakhir terungkap dan mereka harus menilai kembali makna dari setiap adegan yang baru saja mereka saksikan. Dalam sekejap mata, itu menjadi film yang sangat berbeda, jauh lebih kaya dan jauh lebih asing daripada yang mereka bayangkan sebelumnya.

Jika saya dapat melompat dari yang sekuler ke yang suci, dari budaya pop ke Kitab Suci yang diilhami, saya kira dua orang murid Yesus yang sedang dalam perjalanan menuju Emaus pasti merasakan hal yang sama ketika Yesus membukakan kebenaran Perjanjian Lama kepada mereka (Lukas 24:27). Jadi, mereka pasti berpikir, itulah yang sebenarnya dimaksudkan oleh Musa — dan oleh Daud, Yesaya, Yehezkiel, dan Daniel! Bagaimana kita bisa melewatkannya di saat kebenaran itu sedang di depan mata kita selama ini?

Seolah-olah para penonton dan dua orang yang ke Emaus sedang mencoba mengumpulkan seribu keping puzzle tanpa pernah ditunjukkan gambar utuh dari puzzle itu. Hanya ketika sutradara dari film, atau dari Injil, memperlihatkan gambar itu, barulah mereka dapat menggunakannya sebagai kunci untuk mengumpulkan potongan-potongan menjadi gambar dan narasi yang jelas. Saya merasakan sesuatu seperti pewahyuan ketika saya melihat buku Michael Heiser The Unseen Realm: Recovering the Supernatural Worldview of the Bible, pertama kali diterbitkan pada tahun 2015.

Heiser, yang memegang gelar PhD dalam bahasa Ibrani dan bahasa Semitik dan yang merupakan direktur eksekutif the School of Theology di Gereja Celebration di Jacksonville, Florida, telah mengabdikan karirnya untuk memperluas wawasan umat Kristen yang percaya Alkitab, yang tidak pernah mengerti tentang makna "allah" dan "anak-anak Allah" sebagaimana yang sering dipakai dalma Alkitab. Dengan menggunakan Mazmur 82 sebagai titik awalnya, Heiser berpendapat bahwa Allah memilih untuk bekerja melalui sidang ilahi yang terdiri atas makhluk suprantaural yang Dia ciptakan dimana Dia berdaulat diatasnya. Dia bermaksud agar sidangNya juga mencakup perwakilan manusia yang akan bertemu di Taman Eden, yang merupakan titik penghubung antara surga dan bumi.

Tetapi manusia, yang dicobai oleh anggota sidang yang memberontak, jatuh dalam dosa dan kehilangan Taman Eden. Hal-hal berubah lebih lanjut ketika serangkaian makhluk supranatural mengambil tubuh manusia dan kawin dengan perempuan manusia untuk menghasilkan bangsa orang-orang raksasa, yaitu Nephilim (Kej. 6: 1-4). Kejahatan bangsa ini memperparah kejahatan manusia dan menyebabkan Air Bah, tetapi bahkan peristiwa itu tidak mengakhiri kejahatan manusia dan ilahi. Pergerakan untuk membangun Menara Babel menunjukkan bahwa kejahatan dan pemberontakan masih merajalela di antara manusia dan dewa.

Sebagai hasil dari pemberontakan itu, Allah membagi tanah itu dan menyerahkan bagian-bagian itu kepada bangsa-bangsa, anggota supranatural sidang-Nya (Ul. 32: 8–9), meninggalkan Israel untuk dirinya sendiri sebagai sebidang tanah suci yang tersisa untuk dihuni oleh keturunan Abraham, yang dipanggil-Nya untuk tujuan itu. Tetapi penjaga supranatural dari daerah-daerah itu satu demi satu berubah menjadi jahat, menyebabkan Allah menghakimi dan mengutuk mereka, sebagaimana dicatat dalam Mazmur 82. Lebih buruk lagi, keturunan Abraham berubah menjadi jahat dan mulai menyembah dewa-dewa pemberontak dari bangsa-bangsa lain, menyebabkan Allah mengasingkan mereka ke Babel, tanah tempat Menara Babel dibangun.

Pelayanan Malaikat

Sejak penerbitan The Unseen Realm, Heiser terus menyempurnakan pandangan supranatural terhadap Alkitab dengan dua buku terbaru tentang sifat, asal, dan fungsi malaikat dan setan. Untuk menjelaskan mitos dan legenda seputar makhluk-makhluk ilahi ini, Heiser membawa kita untuk melihatnya melalui mata para penulis Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru serta para penulis orang Yahudi dan Yunani yang hidup pada periode intertestamental.

Article continues below

Meskipun Heiser menyajikan kasusnya dan memberikan kesimpulan dengan cara yang mudah diakses, poin-poinnya didukung oleh begitu banyak penelitian tekstual, sejarah, antropologis, dan linguistik. Memang, salah satu kekuatan besar Heiser adalah mengambil temuan dari makalah esoteris, yang sangat akademis dan membantu pembaca biasa, yang bukan spesialis untuk memahami relevansi mereka menafsirkan Alkitab dan melihat secara keseluruhan pekerjaan Allah dalam sejarah manusia.

Dalam bukunya di tahun 2018, Angels: What The Bible Really Says About God's Heavenly Host, Heiser menjelaskan bahwa membawa-pesan (arti kata malaikat dalam bahasa Yunani) hanyalah satu dari banyak fungsi yang dilakukan oleh makhluk supranatural, non-fisik yang diciptakan oleh Tuhan. Malaikat juga bertindak sebagai pelayan kehendak Allah, penjaga yang selalu berjaga-jaga, pasukan surgawi (atau bala tentara) Allah, penafsir pesan-pesan Allah bagi umat manusia, pelindung kekudusan Allah, pelaksana penghakiman ilahi Allah, dan anggota sidang ilahi Allah yang berpartisipasi serta bersaksi dalam keputusan dan titah kedaulatan Allah.

Heiser menyajikan gambaran dinamis Allah sedang bersama dengan sidang ilahi-Nya, tetapi ia juga menetapkan batas alkitabiah untuk otoritas dan nasihat malaikat. Salah satu contoh dalam Kitab Suci dimana Allah bersidang dengan sidang-Nya adalah dalam 1 Raja-raja 22:19–23, ketika ia bertanya bagaimana mengalahkan raja Ahab yang jahat. Setelah melakukan analisis yang cermat pada bagian itu, Heiser menyimpulkan bahwa “teks memberi kita contoh yang jelas di mana Allah telah memutuskan untuk bertindak, tetapi mengizinkan hamba-hamba dibawah-Nya yang cerdas untuk turut ambil bagian dalam pelaksanaan keputusanNya. Tuhan tidak sedang mencari ide, seolah-olah Dia tidak bisa memikirkan rencana saja. Dia memberikan mereka yang melayani-Nya kebebasan untuk mengusulkan pilihan-pilihan.”

Dalam tinjauannya tentang studi malaikat antara periode Pengasingan dan pelayanan Kristus, Heiser mengerahkan penelitiannya yang luar biasa untuk menghapus dua mitos populer. Pertama, ia menunjukkan bahwa para penulis Second Temple Jewish, termasuk para penerjemah Septuaginta (Perjanjian Lama orang Yunani) dan komunitas Qumran yang menulis Dead Sea Scrolls (Gulungan Laut Mati), tidak menghilangkan penggunaan bahasa malaikat sebagai anak-anak allah karena takut mendukung politeisme. Tulisan mereka menunjukkan sebaliknya: pemahaman yang jelas bahwa Yahweh adalah satu-satunya Tuhan, tetapi bahwa Dia dikelilingi oleh sidang ilahi makhluk supranatural yang sering disebut allah (jamak). Kedua, ia menunjukkan bahwa Dead Sea Scrolls tidak mewujudkan gambaran dualistik tentang kebaikan dan kejahatan sebagai kekuatan yang setara dan berlawanan, tetapi tentang peperangan suci antar makhluk-makhluk yang diciptakan oleh Yahweh yang mahakuasa dan yang penuh kebajikan.

Saat Perjanjian Lama berbicara tentang malaikat Tuhan yang melaksanakan penghakiman Allah, Perjanjian Baru, yang ditulis setelah Allah menjadi manusia, tidak lagi menyebutkan Malaikat Tuhan — karena penghakiman telah “dipercayakan” kepada Kristus (Yohanes 5: 22). Malaikat digambarkan sebagai pembalasan dendam Allah dalam kitab Wahyu apokaliptik, tetapi dalam sisa Perjanjian Baru, mereka biasanya terlihat dalam pelayanan kepada orang percaya.

Beberapa orang berpendapat bahwa kematian Kristus di salib menebus malaikat yang jatuh juga sebagaimana manusia yang jatuh, namun Heiser menyanggah teori ini, dengan menjelaskan bahwa “pengorbanan Yesus tidak menolong para malaikat. Itu menolong orang-orang percaya — anak-anak Abraham dalam iman.”

Article continues below

Pemberontakan Iblis

Dalam bukunya yang terbaru, Demons: What The Bible Really Says About the Powers of Darkness, Heiser menceritakan kisah tentang para malaikat yang jatuh yang bahkan tidak bisa ditebus oleh kematian Kristus. Buku itu menghilangkan mitos yang dipopulerkan dalam puisi klasik John Milton, yaitu Paradise Lost, tentang pemberontakan tunggal terhadap Allah yang dipimpin oleh Setan sebelum dunia diciptakan, sebuah mitos yang hanya didukung oleh sedikit tulisan yang nyata dalam Kitab Suci. Sebaliknya, Heiser mendefinisikan setan, atau roh-roh jahat, sebagai “anggota-anggota tuan rumah surgawi Allah yang telah memilih untuk memberontak melawan kehendak-Nyya.” Bukan hanya terjadi sekali, seperti halnya di Paradise Lost, pemberontakan ini (seperti yang disebutkan sebelumnya dalam ulasan ini) mengambil bentuk yang berbeda dalam waktu yang berbeda: ular di Taman Eden, anak-anak Allah yang tidur dengan anak-anak perempuan manusia, dan anak-anak allah yang tidak taat yang ditempatkan Yahweh untuk memimpin bangsa-bangsa sesudah Menara Babel.

Namun, meskipun mereka memberontak, roh-roh jahat itu tetap menjadi roh yang hidup di alam rohani. Seperti yang diamati oleh Heiser, “Pemberontakan mereka tidak berarti bahwa mereka tidak lagi menjadi bagian dari dunia itu atau bahwa mereka menjadi sesuatu yang bukan diri mereka sebelumnya. Mereka masih merupakan makhluk spiritual. Sebaliknya, pemberontakan memengaruhi (dan masih mencirikan) kecenderungan mereka terhadap, dan hubungan dengan, Yahweh.” Adapun iblis-iblis yang digambarkan dalam Perjanjian Lama, Heiser menjelaskan bahwa beberapa “memiliki hubungan dengan dunia orang mati dan penghuninya,” beberapa terkait dengan lokasi geografis tertentu yang menentang pemerintahan Allah, dan beberapa lainnya adalah “makhluk gaib yang diasosiasikan dengan penyembahan berhala dan tanah yang tidak suci.”

Mengenai jenis ketiga, Heiser mencatat bahwa, meskipun secara teori tanah “yang tidak ditempati oleh hadirat Allah” dapat dianggap tidak suci, tidaklah berarti semua tempat di luar Yerusalem sebagai tempat yang berbahaya secara rohani. Namun demikian, Heiser menulis, “ngerinya, tempat-tempat yang tidak dapat dihuni yang berhubungan dengan dewa-dewa lain tidaklah suci dalam arti seram dan jahat. Hal ini benar tentang padang gurun belantara, baik secara harafiah atau secara metaforis untuk menggambarkan tempat-tempat yang dirusak oleh penghakiman ilahi.” Ke padang belantara itulah korban penghapus dosa dibawa pada Hari Penebusan (Imamat 16), sebuah hutan belantara yang secara harfiah dipandang sebagai tempat “perjuangan kosmik yang melibatkan dunia rohani.” Banyak pembaca modern, bahkan jika mereka percaya pada ineransi alkitabiah, akan menemukan tema-tema ini meresahkan, tetapi dapat dibuktikan dalam Perjanjian Lama, berlanjut ke periode Second Temple (periode Bait Suci Kedua) setelah pengasingan Israel, dan muncul sekilas pada pengusiran setan yang dilakukan Yesus dalam Perjanjian Baru.

Apa yang Heiser katakan tentang Setan tidaklah asing bagi banyak orang, tetapi mungkin bukanlah argumennya yang menyatakan bahwa setan yang berusaha menggoda, merusak, dan merasuk manusia diyakini asalnya adalah bangsa Nefilim hibrida yang dilahirkan oleh anak-anak allah dan anak perempuan manusia. Ketika bangsa Nephilim itu meninggal, Heiser mengklaim, roh mereka yang tak lagi berwujud kemudian menjadi iblis. Topik asing lainnya menyangkut asal usul perang rohani kosmis, politik-teritorial yang kita temukan dalam Alkitab. Heiser mengatakan hal itu tidak dimulai dalam pemberontakan mula-mula Setan dan antek-anteknya, tetapi justru ketika “anak-anak allah [mereka yang diberikan bangsa yang dibagi-bagikan Allah] melanggar keinginan Yahweh akan keteraturan duniawi dan pemerintahan yang adil terhadap ciptaan-Nya, yang akhirnya menciptakan kekacauan dalam bangsa-bangsa.”

Article continues below

Tetapi kita tidak perlu takut, Heiser meyakinkan kita; setelah Kristus mengalahkan kuasa Setan, Ia membuka jalan untuk pembaruan bangsa-bangsa yang dikendalikan iblis. Pembaruan ini terjadi pada hari Pentakosta (Kisah Para Rasul 2), ketika Injil dibawa ke semua negeri yang sebelumnya dikuasai oleh anak-anak allah yang memberontak. Jumat Agung, Paskah, dan Pentakosta bersama-sama menyembuhkan perpecahan yang dimulai oleh Babel, sehingga memungkinkan bagi bangsa-bangsa bukan Yahudi untuk membebaskan diri dari dewa-dewa palsu dan mempercayai Yesus sebagai Tuhan.

Menghancurkan Kegelapan

Meskipun banyak pembaca mungkin tersandung aspek teknis Angels and Demons (Malaikat dan Iblis), dengan grafik panjang dan penekanan berat pada penguraian istilah-istilah bahasa Ibrani dan Yunani, Heiser membuat segala sesuatunya berlanjut dan dengan terampil merangkum poin utamanya. Bagiamanapun juga saya berharap, ia lebih bersimpati kepada para pendukung peperangan spiritual modern yang memiliki konsep perselisihan kosmis Heiser, yang mencakup unsur teritorial yang kuat. Meskipun saya setuju dengan Heiser bahwa anak-anak allah yang jatuh telah kehilangan hak warisnya oleh Salib, Kebangkitan, dan penyebaran Injil, sulit untuk menyangkal bahwa wilayah-wilayah tertentu di dunia masih terbenam dalam kegelapan rohani.

Para advokat peperangan-rohani telah menemukan area dalam sebuah persegi panjang yang membentang dari garis lintang utara 10 ke 40 dari khatulistiwa. “Jendela 10/40″ ini, sebagaimana kadang-kadang disebut oleh para ahli strategi misi, meliputi Afrika Utara, Timur Tengah, Cina, Pakistan, dan India. Mengingat bahwa sebagian besar kelompok orang yang belum dijangkau hidup di jendela ini, dan bahwa kejadian penganiayaan terhadap gereja sangat besar di sana, itu memberi kesan bahwa wilayah pemerintahan iblis (atau benteng) ada di bagian dunia tersebut, dan bahwa doa yang sungguh-sungguh dari orang percaya dapat membantu menghancurkan hubungan dengan yang jahat.

Saya percaya buku-buku Heiser dapat menginspirasi pentingnya gerakan doa, sama halnya buku-buku tersebut telah menjelaskan makna penuh dan luasnya peperangan rohani dalam halaman-halaman Firman Tuhan.

Louis Markos adalah profesor bahasa Inggris dan seorang scholar-in-residence di Houston Baptist University dan memegang Robert H. Ray Chair in Humanities. Buku-bukunya termasuk Heaven and Hell: Visions of the Afterlife in the Western Poetic Tradition (Cascade Books).

[ This article is also available in and English. See all of our Indonesian (Indonesian) coverage. ]