Kami tidak tahu harus berbuat apa, namun mata kami tertuju pada-Mu. 2 Tawarikh 20:12

Di dalam Perjanjian Lama Raja Yosafat menerima kabar bahwa tiga pasukan laskar bersekongkol bersama dan melawannya dalam satu serangan besar-besaran, dia mengambil langkah-langkah yang menentukan dan kepemimpinan yang tidak seperti lazimnya.

Setiap pemimpin di seluruh dunia berada di dalam kesulitan yang sama.

Dihadapkan pada tiga cabang persoalan besar sebagai akibat dari kemajuan zaman; pandemi kesehatan global, ekonomi dunia yang menjerit, dan orang-orang yang hidup dalam krisis kecemasan dan ketakutan — apa yang dapat kita pelajari dari pemimpin kuno ini yang dapat dipakai pada hari-hari ini?

Yosafat tidak memiliki peluang yang baik, dan, sejujurnya, hal ini tidak terlalu bagus untuk banyak keluarga dan bisnis saat ini.

Jauh di lubuk hati, sebagian besar pemimpin yang telah mengalami badai yang kejam tahu bahwa kita akan mampu melewatinya. Kita selalu mampu melakukannya. Kita akan bertahan dalam pembantaian ini dan muncul dari kedalaman untuk tumbuh dan berkembang lagi. Tetapi itu akan memakan waktu — waktu yang cukup lama. Saat ini, kita berada di dalam lembah bayang-bayang maut.

Jadi bagaimana kita berjalan melewati masa-masa kelam ini?

Mari kita perhatikan dengan cermat jalan yang dipilih Yosafat.

Pertama, dia menyerukan orang-orang untuk mencari Tuhan. Raja berdoa dengan dua belas kata yang transformasional ini — Kami tidak tahu harus berbuat apa, namun mata kami tertuju pada-Mu.

Kita tidak memiliki semua kebebasan untuk secara bersama menyerukan orang-orang kita untuk mencari Tuhan. Tetapi setiap pemimpin memiliki kesempatan untuk secara pribadi mencari bantuan dari surga sebelum memimpin orang lain ke kancah itu.

Pada dasarnya, para pemimpin adalah percaya diri, terampil, dan teruji dalam peperangan. Sering sekali kita bangun dari tempat tidur dan segera mengambil alih memimpin. Sangat mudah untuk bangun, mengamati bentuk tampilan luar, dan segera fokus pada penyelesaian masalah, menciptakan peluang, dan mengerahkan pasukan.

Namun, pada akhirnya, pemimpin mana pun hanya bisa bertahan lama ketika kerendahan hati yang menjadi dasar mereka — kerendahan hati lah yang mendorong mereka untuk mencari pertolongan pertama dari Tuhan.

Ciri khas dari setiap pemimpin besar adalah kemampuan untuk memimpin diri sendiri. Ini berarti menghadapi keterbatasan dirimu dan bersandar pada Penciptamu. Kita akan memimpin dengan cara terbaik pada saat kita membiarkan Tuhan memimpin kita.

Beberapa pandangan orang yang kurang sependapat: “Engkau tidak boleh rendah hati saat saya minta engkau kerjakan sesuatu. Engkau tidak akan pernah boleh menunjukkan kelemahan atau orang-orang akan menabrakmu!”

Kerendahan hati tidaklah sama dengan kelemahan. Sebaliknya, di situlah kita menemukan kekuatan kita. Atau lebih baik lagi, kerendahan hati adalah tempat di mana kita mengakses persediaan Tuhan.

Badai yang kuat membutuhkan kepemimpinan yang luar biasa — kepemimpinan yang dimulai dengan permohonan : Ya Tuhan, aku tidak tahu harus berbuat apa. Namun mataku tertuju padamu.

Memang tidaklah selalu bijaksana untuk memimpin rapat pemegang saham atau rapat staf dengan pengakuan diatas. Orang-orang membutuhkan stabilitas di dalam pemimpin mereka dan mengandalkannya untuk menggambarkan keyakinan atas skenario terburuk seperti yang kita hadapi saat ini. Tetapi hal ini tidak menghalangi kita untuk secara pribadi tetap terikat pada kenyataan bahwa kita sepenuhnya bergantung pada Tuhan. (Tidak ada salahnya untuk mengatakan hal ini sesekali kepada tim pemimpin terdekat kita).

Sikap kerendahan hati ini sangat penting karena memposisikan kita untuk pertolongan supernatural.

Sepatah kata datang kepada raja dan rencana perang mulai dijalankan. Yosafat diberitahu, “Dalam peperangan ini tidak usah kamu bertempur. Tinggallah berdiri di tempatmu dan lihatlah bagaimana TUhan memberikan kemenangan kepadamu. Janganlah kamu takut dan terkejut. Majulah besok menghadapi mereka, Tuhan akan menyertai kamu” (2 Taw. 20:17).

Tuhan tidak meminta engkau untuk terlalu merohanikan situasi mu: "Hai teman-teman, kami hanya akan percaya Tuhan saja atas perusahaan kami dan melihat apa yang terjadi! Duduklah dan santailah. "

Gak mungkin.

Lihat semua pada kata kerja aktif: Tinggallah berdiri di tempatmu. Berdiri kokoh. Lihatlah. Majulah. Hadapi mereka.

Namun, ketika engkau melangkah maju, jaga agar pasokan oksigen supernatural Tuhan mengalir dalam setiap tarikan napas mu. Dalam kuasa Roh-Nya Engkau dapat menemukan kekuatan untuk melakukan apa yang selanjutnya dilakukan Yosafat.

Dia berangkat. Dia berdiri. Dia berbicara. (ay.20)

Berangkatlah dalam iman bahwa Tuhan menyertai Engkau Berdirilah di atas Batu Karang yang Teguh Berbicaralah dengan otoritas karena Tuhan tidak pernah gagal.

Kemudian Yosafat melakukan satu hal terakhir sebelum menuju ke pertempuran - dia memuji Tuhan. Raja menyanyikan nyanyian syukur kepada Tuhan terlebih dahulu untuk kemenangan yang telah dijanjikan Tuhan.

Dengan pertolongan Tuhan, Yosafat dan pasukannya mengalami kelepasan dari Tuhan dalam pertempuran itu. Dengan cara yang sama, Tuhan akan melepaskan Engkau.

Ya Tuhan, aku mengarahkan mataku kepadaMu. Tolong hancurkan rasa pengendalian yang salah dan kepercayaan berlebihan saya atas kemampuan diri saya sendiri. Saya bersujud merendahkan diri dan memohon kekuatan supernatural-Mu, hikmat dan keberanian agar saya dapat bertahan di hari-hari ini dan memimpin diri sendiri dan yang lainnya dengan iman untuk masa depan. Doa saya setiap harinya adalah: Saya tidak tahu harus berbuat apa, namun mata saya tertuju pada-Mu. Pimpin saya dan pakai saya sebagai agen untuk kemuliaan-Mu. Dalam nama Yesus, Amin.

Louie Giglio adalah pendeta Gereja Passion City dan pendiri gerakan Passion, yang berdiri untuk memanggil satu generasi untuk memanfaatkan hidup mereka demi kemasyhuran Yesus.