Catatan editor: Lihat artikel terkait tentang mengapa kami melaporkan kabar buruk tentang pemimpin — bahkan setelah mereka meninggal.

Ravi Zacharias International Ministries (RZIM) telah membuka penyelidikan atas tuduhan bahwa mendiang pendiri lembaga tersebut telah melakukan pelecehan seksual terhadap beberapa terapis pijat yang bekerja di dua tempat spa di mana ia menjadi salah satu pemiliknya.

Tiga wanita yang bekerja di kedua tempat bisnis itu, yang terletak di pusat perbelanjaan terbuka di pinggiran kota Atlanta, mengatakan kepada Christianity Today bahwa Ravi Zacharias telah menyentuh mereka secara tidak sopan, mengekspos dirinya sendiri, dan melakukan masturbasi selama perawatan rutin pada periode sekitar lima tahun lebih. Mitra bisnisnya mengatakan ia menyesal tidak menghentikan Zacharias dan mengirim teks permintaan maaf kepada salah satu korban bulan ini.

RZIM membantah klaim-klaim tersebut, dengan mengatakan dalam sebuah pernyataan kepada CT bahwa tuduhan-tuduhan perbuatan seksual yang tidak senonoh “sama sekali tidak sesuai dengan pria yang kami kenal selama bertahun-tahun.” Organisasi tersebut telah menyewa sebuah firma hukum “yang berpengalaman menyelidiki hal-hal semacam ini” untuk menyelidiki tuduhan-tuduhan tersebut, yang sudah terjadi setidaknya selama 10 tahun. RZIM menolak untuk menjawab pertanyaan lebih lanjut tentang penyelidikan tersebut.

Selama karir pelayanannya, apologet terkenal itu, yang meninggal di bulan Mei pada usia 74 tahun karena kanker di tulang sakrumnya — pernah menyinggung tentang sakit punggung kronis yang dideritanya akibat cedera tulang belakang pada tahun 1985. Ia mengatakan bahwa dirinya mengatasi rasa sakit itu dengan pijat dan fisioterapi.

Para wanita yang bekerja di kedua spa tersebut mengatakan, ketika Zacharias tidak bepergian dengan RZIM, dia datang untuk perawatan sebanyak dua atau tiga kali seminggu. Kedua spa tersebut berjarak 15 menit berkendara dari kantor pusat RZIM di Alpharetta.

Ketiga wanita itu mengenal Zacharias sebagai pemilik dan klien, serta seorang pemimpin Kristen dan penulis terkenal. Beberapa bukunya dijual di toko yang ada di spa tersebut, dan para karyawan membacanya sehingga mereka bisa membicarakan tentang isi buku-buku tersebut saat dia datang.

Zacharias adalah orang yang ramah dan menaruh minat terhadap kehidupan mereka, menurut orang-orang yang bekerja di sana. Namun seiring berjalannya waktu, di dalam bilik perawatan pribadi yang kecil itu, Zacharias mulai melakukan rayuan seksual yang tidak diinginkan, kata ketiga wanita itu secara terpisah. Awalnya, mereka berusaha mengabaikannya, terlalu malu untuk menegur seorang rohaniwan yang terkenal. Namun menurut pengakuan mereka, perilakunya yang tidak pantas itu malah semakin meningkat.

“Setiap pertemuan, ia mengekspos dan menyentuh dirinya sendiri,” ujar salah satu wanita kepada CT. “Ke tempat inilah ia pergi untuk mendapatkan apa yang ia inginkan secara seksual.”

Zacharias melakukan masturbasi di hadapan salah satu wanita lebih dari 50 kali, menurut ingatan salah satu wanita tersebut. Zacharias berkata kepadanya bahwa ia terbebani dengan tuntutan pelayanan sangat tinggi, sehingga ia membutuhkan “terapi” ini. Ia juga memintanya untuk berhubungan seks dengannya dua kali, ujarnya, dan memintanya memberikan foto yang tak senonoh.

CT telah melakukan verifikasi identitas dan riwayat pekerjaan dari ketiga wanita tersebut. Mereka bersedia berbagi cerita dengan syarat nama mereka dirahasiakan karena takut akan stigma yang akan muncul sebagai korban dan kemungkinan akan adanya pembalasan dendam karena merusak reputasi seorang pemimpin Kristen yang terkenal. Mereka berbicara dengan CT melalui telepon berkali-kali selama lima minggu terakhir, dan CT mendengar dari tiga rekan kerja lainnya di kedua spa tersebut yang mendukung pernyataan mereka.

Article continues below

Buletin-buletin gratis

Buletin-buletin lainnya

Tuntutan mereka muncul tiga bulan setelah kematian Zacharias dan tiga tahun setelah dia menyelesaikan kasus terhadap Lori Anne Thompson yang terkait tuduhan sexting.

Thompson tidak diizinkan untuk berbicara tentang apa yang terjadi karena terikat dengan ketentuan perjanjian kerahasiaan, tetapi sebelumnya ia telah merinci bagaimana sang apologet itu meminta foto-foto telanjang darinya, dengan memujinya dan mengatakan bahwa ia (Zacharias) membutuhkan pelepasan seksual karena "tekanan" yang besar dari pelayanannya. Dalam sebuah pernyataan di tahun 2017, Zacharias mengonfirmasi adanya komunikasi di antara mereka dan juga foto-foto, tetapi mengatakan bahwa ia tidak memintanya.

Para wanita yang bekerja di spa tersebut mengatakan bahwa sebelumnya mereka tidak mau berbicara tentang hal ini karena mereka tidak menginginkan uang, publisitas, atau bahkan permintaan maaf atas apa yang terjadi. Tetapi setelah kematian Zacharias, mereka berkata bahwa mereka ingin agar para korban lain, yang mungkin ada di luar sana — seperti Thompson — mengetahui bahwa mereka tidaklah sendiri.

Di spa

Zacharias terjun ke dunia bisnis sebagai pemilik spa pada tahun 2004 dengan membuka Touch of Eden di sebuah pusat perbelanjaan di Johns Creek, pinggiran kota yang makmur dan berkembang pesat di timur laut Atlanta. Catatan keuangan yang diperoleh CT menunjukkan bahwa Zacharias telah menginvestasikan setidaknya $50.000 dan tercatat sebagai wakil presiden dan pemilik sepertiga dari perusahaan itu.

Ketika Touch of Eden tutup pada tahun 2008, Zacharias dan mitra bisnisnya, Anurag Sharma, membuka spa kedua di lokasi yang sama.
Spa tersebut diberi nama Jivan Wellness, yang dalam bahasa Hindi berarti “kehidupan”. Jivan tetap berjalan hingga 2015. Pada saat itu, catatan pajak menunjukkan bahwa Zacharias memperoleh total kompensasi sekitar $365.000 per tahun dari RZIM.

Jivan Wellness grand opening in 2009.

Jivan Wellness grand opening in 2009.

Zacharias tidak merahasiakan keterlibatannya di bisnis spa tersebut. RZIM mengonfirmasi kepemilikan bisnis mantan pemimpinnya dalam tanggapan kepada CT. Ia juga memiliki kartu nama yang mencantumkannya sebagai pemilik Touch of Eden dan hadir di acara pembukaan Jivan Wellness. Situs web dari spa kedua ini mengindikasikan bahwa Wellspring International (lembaga bantuan sosial di bawah RZIM) merupakan penerima manfaat dari bisnis ini.

Ada enam sampai sepuluh orang sekaligus bekerja di spa tersebut. Hampir semuanya adalah wanita lajang yang mencoba membangun karir mereka sebagai terapis pijat berlisensi, ahli kecantikan, ahli perawatan kuku, dan pemilik usaha kecil. Para karyawan mengatakan bahwa Zacharias, yang datang untuk pijat rutin dan juga perawatan kulit, membuat mereka merasa istimewa ketika dia berbicara pada mereka dan menghargai intelektual serta kerohanian mereka.

Ia bertanya kepada para wanita itu tentang aspirasi profesional mereka dan membuat mereka berbincang mengenai latar belakang pribadi mereka — termasuk hubungan masa lalu, trauma-trauma, dan pelecehan. Tiga wanita yang berbicara dengan CT masing-masing mengatakan bahwa Zacharias berhasil mendapatkan kepercayaan mereka, lalu pelecehan seksualpun dimulai.

“Dia menyentuh kaki saya dengan tangannya, namun kemudian dia mengarahkan tangannya ke bagian tengah paha saya dan ke area pribadi saya,” kata salah satu wanita.

Wanita lain ingat bahwa Zacharias menyentuh punggung bawahnya. Awalnya ia terlihat ramah, seolah-olah untuk menenangkan. Kemudian ia menggerakkan tangannya ke bawah dan ke bagian dalam dari celana wanita itu. Pada beberapa kesempatan lain, dia menggerakkan tangannya ke samping dan menyentuh payudaranya.

Para wanita tersebut berkata bahwa mereka menarik diri dan berpura-pura tidak terjadi apa-apa. Setiap dari mereka khawatir bahwa mereka telah melakukan suatu kesalahan — mungkin ada kesalahpahaman atau mungkin mereka telah melakukan sesuatu yang menyebabkan pemimpin Kristen yang terkenal itu “jatuh ke dalam dosa.” Mereka berharap bahasa tubuh mereka sudah cukup untuk mengkomunikasikan bahwa mereka tidak menyukai tindakan-tindakan seksual tersebut.

Article continues below

“Saya merasa malu. Saya merasa kikuk,” kata salah seorang dari wanita tersebut. “Anda berhadapan dengan seorang penginjil terkenal di dunia yang bersikap tidak pantas, dan saya tidak tahu harus berbuat apa. Dia bukan hanya seorang pemimpin perusahaan. Dia bukan sekedar seorang CEO. Dia adalah seorang pemimpin Kristen. ”

Ketika para wanita tersebut tidak mengatakan apa-apa, pelecehan seksual itu semakin meningkat. Ketiganya secara terpisah menyatakan bahwa Zacharias mulai membuka kain yang menutupinya selama perawatan dan mengekspos dirinya sendiri. Seorang wanita mengatakan Zacharias mempertontonkan ereksinya kepada dia setidaknya 15 kali dalam beberapa bulan.

“Di sekolah mereka mengajari kami cara memakaikan kain dengan benar,” katanya. “Ada cara untuk menarik kain tersebut hingga Anda bisa mencapai area tertentu seperti punggung bagian bawah. Anda memakaikan kain tersebut hampir seperti popok bayi. Jadi tidak akan mudah dibuka begitu saja. Tetapi Zacharias membukanya agar terlihat seperti kecelakaan, tetapi sebenarnya disengaja.”

Seorang wanita mengatakan Zacharias benar-benar diam saat dia mengekspos dirinya sendiri. Yang lain mengatakan dia membuat “suara yang tidak pantas.”

Wanita ketiga mengatakan bahwa setelah Zacharias mengekspos dirinya beberapa kali, ia (Zacharias) memintanya untuk memijat area selangkangannya dan menggerakkan tangannya ke sana. Wanita itu mengatakan bahwa bisa saja cedera punggungnya menyebabkan rasa sakit di area tersebut, karena itu ia menuruti permintaan Zacharias meskipun hal itu membuatnya tidak nyaman.

Pada saat itu, mereka sebelumnya telah berbicara berjam-jam di ruang pijat pribadi, kata wanita itu. Zacharias menanyakan tentang hidupnya, dan wanita itu menceritakan segalanya, mulai dari harapan atas karirnya dan perjuangannya sebagai ibu tunggal, hingga hubungan masa kecilnya dengan Yesus, serta bagaimana dia telah dilecehkan secara seksual.

Wanita itu merasa bahwa Zacharias sedang melayaninya dan “ada kekudusan di sekelilingnya.” Dia berpikir bahwa kini gilirannya untuk membantu Zacharias dan merasa harus menurutinya sampai batas tertentu.

Kemudian Zacharias mencoba mengarahkan tangannya ke penis dia, kata wanita itu pada CT. Dia menolak dan memalingkan wajahnya saat Zacharias bermasturbasi. Pada sesi pemijatan berikutnya, Zacharias mengekspos dirinya lagi dan kembali bermasturbasi. Menurut pengakuan wanita itu, hal ini terjadi lebih dari 50 kali selama tiga tahun berikutnya.

“Dia akan berkata, ‘Saya membutuhkannya. Saya membutuhkannya. Saya membutuhkannya,’” kenang wanita itu. “Dia akan mengatakan bahwa dia sangat membutuhkannya dan itu terapi yang bagus.”

Zacharias memintanya untuk berhubungan seks dengannya. Dua kali, wanita tersebut menolak karena Zacharias sudah menikah. Zacharias mengatakan kepadanya bahwa dia memimpikan untuk dapat meninggalkan pelayanan dan kehidupannya sebagai seorang apologet untuk menjalani kehidupan pribadi sebagai orang biasa. Tetapi dia tidak bisa melakukannya karena ini adalah “beban” yang harus ia pikul, kenang wanita itu.

Tetap diam

Tiga orang yang berbicara dengan CT mengatakan bahwa mereka tidak memberi tahu siapa pun tentang perilaku Zacharias masa itu, yaitu sekitar tahun 2005-2010. Mereka bahkan tidak membicarakannya satu sama lain. Salah satu wanita ingat pernah menunjukkan “ekspresi wajah” tertentu pada seorang rekan kerjanya. Yang lain ingat seseorang pernah mengisyaratkan bahwa Zacharias menggunakan spa untuk melakukan masturbasi. Yang ketiga bertanya-tanya apakah wanita lain juga dilecehkan ketika ia mendadak berhenti bekerja dan ayahnya datang untuk mengambil barang-barangnya dari spa tersebut.

Article continues below

Namun para wanita tersebut tidak angkat bicara. Mereka kuatir tidak akan dipercaya atau disalahkan dan dapat kehilangan pekerjaan.

Jika mereka ingin melaporkan Zacharias, mereka memiliki dua pilihan. Mereka bisa saja pergi ke organisasi yang menyandang namanya, di mana istri Zacharias, Margie, dan salah satu putrinya berada di dewan lembaga tersebut. Atau mereka bisa saja pergi ke Christian and Missionary Alliance (CMA).

Zacharias memiliki lisensi di denominasi tersebut, yang menyatakan bahwa organisasi ini mendisiplinkan para pelayan Kristen atas “kegagalan moral yang melibatkan pelanggaran seksual”. CMA berpandangan bahwa orang-orang akan didiskualifikasi dari jabatan kepemimpinan jika perilaku mereka menyebabkan “bahaya secara langsung bagi orang lain atau terhadap kesaksian Kristus.”

Meski demikian, proses pendisiplinan hanya dapat dimulai ketika sebuah tuduhan dilayangkan kepada otoritas gerejawi secara langsung atau melalui surat resmi. Para wanita tersebut tidak tahu siapa yang berotoritas atas Zacharias — jika ada.

Mereka masing-masing tetap bekerja di spa sampai mereka tidak tahan lagi. Sekian lama mereka tetap diam setelah kejadian itu.

“Saya menutup mulut dan menyimpannya rapat-rapat,” kata salah satu wanita. “Tetapi masa lalu tidak pernah hanya sekedar masa lalu, dan waktu tidak menyembuhkan semua luka. Bila Anda mengalami sesuatu yang traumatis, hal itu akan memengaruhi pikiran Anda, tubuh Anda, hubungan Anda, dan jiwa Anda. ”

Studi psikologis terhadap korban kekerasan seksual menemukan bahwa sekitar 95 persen korban menunjukkan gejala gangguan stres pasca-trauma, termasuk perasaan marah, dikhianati, dan isolasi yang berlebihan. Yang umum terjadi adalah adanya depresi, kecemasan, dan perilaku merusak diri sendiri. Ketika kerusakan itu dilakukan oleh pemimpin Kristen yang tepercaya, para psikolog mengatakan para korban sering kali menderita rasa malu tambahan, perasaan bersalah secara pribadi, dan kebingungan rohani yang berkepanjangan.

Salah satu wanita mengatakan bahwa untuk beberapa saat lamanya ia sempat tak lagi percaya kepada Tuhan, pasca pertemuannya dengan Zacharias, tetapi kini ia telah kembali beriman setelah melakukan konseling yang lama. Wanita lain mengatakan dia belum ke gereja lagi sejak kejadian itu dan tidak bisa mempercayai institusi agama lagi. Butuh tujuh tahun terapi untuk sampai pada kesimpulan bahwa apa yang Zacharias lakukan padanya bukanlah karena kesalahan dirinya, ujarnya.

Wanita ketiga pindah dari Atlanta, mengganti nama, mengubah karier, dan tidak pernah menyinggung apa yang terjadi — bahkan kepada keluarga terdekatnya — sampai dia dihubungi oleh CT.

“Saya melupakan semua masa lalu itu,” katanya. “Saya tidak ingin uang dan bahkan tidak ingin mereka tahu siapa saya. Satu-satunya alasan saya berbicara adalah bagi para wanita di luar sana yang telah disakiti olehnya.”

Salah satu wanita mengatakan bahwa ia bahkan tidak berpikir untuk tampil sampai ia mendengar berita pada tahun 2017 bahwa Zacharias dituduh telah meminta foto eksplisit dari seorang wanita di Kanada. Ia segera tahu bahwa Thompson mengatakan yang sebenarnya. Ia teringat bagaimana setelah Zacharias bermasturbasi di hadapannya, lalu meminta foto eksplisit dari dirinya kala dia sedang bepergian.

Article continues below

Seperti terapis pijat itu, Thompson juga menjadi korban pelecehan seksual ketika masih kecil dan, seiring waktu, ia telah berbagi kisahnya dengan apologet terkenal itu. Mereka berkomunikasi melalui email dan telepon seluler setelah bertemu pada dua acara di Kanada pada tahun 2014 dan 2015, menurut sebuah akun yang ditulis dan dibagikan oleh Thompson kepada banyak orang pada Desember 2016, sebelum adanya perjanjian kerahasiaan. CT berhasil memperoleh akun tertulis dari pihak ketiga.

Thompson menulis bahwa ia mulai peduli dan mengasihi Zacharias sebagai figur ayah. Ia merasa dihargai karena perhatian yang ditunjukkan Zacharias dalam komunikasi rutinnya. Kemudian Zacharias mulai meminta foto darinya, dengan berpakaian dan kemudian tanpa pakaian, dan akhirnya memintanya untuk terlibat dalam seks melalui telepon, katanya.

Thompson pun menuruti karena ia ingin mempertahankan hubungan mereka dan merawatnya — terutama setelah Zacharias mengeluh bahwa ia “sangat kesepian” padahal telah berkorban begitu banyak untuk bepergian demi pekerjaan pelayanannya.

Zacharias telah melakukan perjalanan ke 70 negara, menurut RZIM, berbicara kepada jutaan orang tentang dasar filosofis dan kerangka Injil. Organisasi yang menyandang namanya itu tumbuh menjadi perusahaan global dengan 17 lembaga resmi yang terpisah dan lebih dari 250 karyawan dari Atlanta hingga Singapura, dari Spanyol hingga Peru.

“Dia berkali-kali menyatakan kepada saya bahwa pelayanannya menuntut pengorbanan yang sangat tinggi. Dia tidak punya waktu bagi diri sendiri, dia tidak memiliki privasi, tidak ada lagi yang tersisa bagi dirinya sendiri,” tulis Thompson pada tahun 2016. Dia menambahkan bahwa Zacharias meyakinkannya bahwa Tuhan tahu pengorbanan Zacharias dan menyiratkan bahwa relasi seksual mereka merupakan cara Tuhan untuk memberkatinya.

Thompson merasa bersalah. Dia menyalahkan dirinya sendiri, memutuskan hubungan dengan Zacharias, dan mulai ikut terapi. “Saya khawatir bahwa saya telah menyebabkan dia jatuh ke dalam dosa seksual,” tulisnya.

Tahun berikutnya, Zacharias menggugat Thompson dan suaminya. Dia mengatakan kepada dewan RZIM bahwa dia memang telah berkorespondensi secara pribadi dengan Thompson, tetapi membantah yang lainnya. Dia mengklaim tidak pernah memberikan pesan dan meminta foto eksplisit. Dia mengklaim bahwa semua itu adalah bagian dari suatu upaya pemerasan.

Gugatan tersebut kemudian menjadi mediasi secara pribadi yang diakhiri dengan perjanjian kerahasiaan. Meskipun kedua belah pihak setuju untuk tidak mengungkapkannya, RZIM merilis pernyataan 800 kata dari Zacharias, menjelaskan sisi ceritanya. Kemudian, Zacharias menolak untuk menjawab pertanyaan lebih lanjut, dengan mengutip perjanjian kerahasiaan.

Thompson telah berulang kali meminta agar dibebaskan dari ketentuan perjanjian kerahasiaan itu. Pengacara korban mengatakan mereka khawatir bahwa dalam beberapa kasus, organisasi Kristen telah memanfaatkan perjanjian kerahasiaan sebagai alat untuk menutupi kebenaran. Rachael Denhollander, seorang penyintas pelecehan dan pengacara yang telah menjadi advokat para korban, mengatakan bahwa Thompson seharusnya dibebaskan dari perjanjian kerahasiaan.

“Organisasi Ravi seharusnya melepaskan Lori dari ikatan perjanjian kerahasiaan yang mereka telah paksakan padanya,” ungkap Denhollander tweeted di awal bulan ini. “Bagi para korban atau penyintas - pengacaramu seharusnya TIDAK PERNAH mengizinkan ikatan perjanjian kerahasiaan. SAMA SEKALI. Pemimpin - jika pengacara ANDA ingin seorang penyintas atau saksi menandatangani perjanjian kerahasiaan, maka Anda tidak sedang menolongnya melakukan hal yang benar. Anda dan mereka yang melakukan hal itu seharusnya malu.”

Article continues below

Menurut sebuah pernyataan dari dewan RZIM minggu lalu, keluarga Zacharias “merasa tidaklah tepat” untuk melepaskan Thompson dari perjanjian kerahasiaan.

Dalam pernyataannya di tahun 2017, Zacharias berbicara tentang pentingnya para pemimpin untuk melindungi diri mereka sendiri dari “penampilan yang tidak pantas sekalipun” dan berkata, “Saya telah lama membiasakan diri untuk tidak sendirian bersama wanita, selain Margie dan putri kami — baik di mobil, restoran, atau di mana pun. ”

Para wanita di spa Johns Creek, tempat di mana Zacharias menjadi salah satu pemilik, berkata kepada CT bahwa tidak demikian halnya ketika mereka bekerja untuk apologet tersebut. Ia menjalani pemijatan, perawatan kulit, dan perawatan wajah secara pribadi beberapa kali dalam seminggu. Perawatan dilakukan di ruangan kecil di mana Zacharias hanya berdua dengan wanita.

‘Sedih tentang semua keburukannya’

Mitra bisnis Zacharias, Anurag Sharma, tidak menanggapi panggilan telepon, teks, dan email berulang kali dari CT selama sebulan. Namun, Sharma baru-baru ini berbicara dengan tiga orang tentang spa yang dulu ia miliki bersama Zacharias. Mereka masing-masing menceritakan percakapan mereka kepada CT dan berbagi dokumentasi, termasuk tangkapan layar telepon dan rekaman.

Orang-orang yang berbicara dengan Sharma mengatakan bahwa ia mengetahui sesuatu yang buruk terjadi di Touch of Eden dan Jivan Wellness. Ia menyesal karena ia gagal mengintervensi, namun tidak menjelaskan secara spesifik. Ia mengaitkan keengganannya karena karisma dari Zacharias.

“Saya merasa menyesal telah mengikutinya secara buta,” tulis Sharma dalam satu pesan. "Dia hanyalah manusia biasa."

Sharma, seorang profesional TI, bertemu Zacharias pada pertengahan tahun 1990-an. Dalam satu percakapan, yang direkam oleh seseorang yang tidak terkait dengan kedua spa tersebut, Sharma menggambarkan dirinya sebagai teman dekat dari Zacharias. Bahkan setelah hubungan bisnis itu berakhir, mereka terus berkomunikasi sampai hari Zacharias meninggal, ujarnya.

“Ia tidak punya teman, dan ia butuh seseorang untuk diajak bicara,” kata Sharma. “Ia sangat sedih tentang semua keburukannya, dan ia berkata bahwa itulah kondisi hati manusia.”

Menurut Sharma, mereka berdua berbicara tentang orang-orang Kristen terkenal yang telah jatuh dari kasih karunia Allah, dan Sharma menggunakan percakapan itu untuk mengajukan pertanyaan menyelidik. Dalam sebuah rekaman, Sharma ingat pernah bertanya kepada Zacharias mengapa para pelayan Injil yang terkenal tampaknya memiliki lebih banyak masalah moral daripada orang Kristen biasa. Zacharias memberitahunya bahwa setiap orang berdosa.

“Saya bahkan benar-benar tidak pernah meragukannya, dan saya tidak tahu mengapa, karena saya merasa hal ini tidak benar,” ucap Sharma. “Saya seharusnya mengerti bahwa ungkapan ‘semua orang telah berdosa’ berarti berlaku untuk semua orang, ketimbang mengganggap seseorang lebih sempurna dari yang lainnya.”

RZIM menolak berkomentar tentang hubungan Zacharias dengan Sharma atau hubungan pelayanan tersebut dengan bisnis yang berlaba itu.

Juru bicara RZIM, Ruth Malhotra mengatakan bahwa penyelidikan atas tuduhan di spa ini akan dilakukan oleh firma hukum berskala menengah di Amerika Serikat bagian tenggara, dan RZIM tidak akan menjawab pertanyaan lebih lanjut sampai penyelidikan tersebut dipresentasikan ke dewan.

“Kami di RZIM tetap berkomitmen pada kebenaran,” kata Malhotra. “Itu adalah dasar dari apa yang kami lakukan, dan itu belum berubah.”

Misi utama dari RZIM adalah untuk menjangkau mereka yang membentuk budaya dengan pesan tentang “kredibilitas Injil Yesus Kristus,” dan pelayanan ini terus berlanjut — meskipun ada pembatasan karena COVID-19 dan kepergian dari pendirinya yang terkenal — untuk mempertahankan pesan kristiani.

Article continues below

Organisasi ini memiliki 100 acara yang direncanakan untuk bulan Oktober, mulai dari konferensi daring lewat Zoom hingga pidato di beberapa universitas Asia serta seminar di gereja-gereja Midwest Baptist. Pelayanan ini melibatkan lebih dari 50 pria dan belasan wanita untuk melanjutkan pekerjaan dan pelayanan Zacharias.

Ketika Zacharias meninggal pada bulan Mei, kematiannya diperingati secara luas oleh kalangan Injili.

Dua dari wanita yang mengatakan bahwa dia melecehkan mereka secara seksual di spa, setuju bahwa Zacharias merupakan seorang pria hebat yang telah melayani dan berkorban demi pekabaran Injil. Mereka bahkan mengatakan kepada CT bahwa kebaikan yang dia lakukan untuk memberitakan tujuan Kristus mungkin lebih besar daripada rasa sakit dan trauma yang telah dia sebabkan atas diri mereka.

Namun mereka bersikeras bahwa hal ini bukan berarti perilaku seksual yang tidak pantas tersebut tidak terjadi. “Bahkan dengan seseorang yang saleh seperti Ravi,” kata salah satu dari mereka, “Anda masih harus berperang melawan Iblis.”

Dengan pelaporan oleh Kate Shellnutt.

Diterjemahkan oleh: Timothy Daun

[ This article is also available in English and español. See all of our Indonesian (Bahasa Indonesia) coverage. ]