Apa saja cara yang efektif untuk mengasihi sesama kita? Kebanyakan dari kita akan mengatakan hal-hal seperti mengantar makanan kepada orang yang sakit atau membantu memperbaiki keran yang rusak. Bila dipikir lebih lanjut, kita mungkin akan menyebutkan tindakan yang tak terlampau nyata seperti berdoa untuk orang lain, segera meminta maaf ketika melakukan pelanggaran, atau memberikan kata-kata yang menguatkan.

Dalam setiap kasus, kita senantiasa memikirkan perilaku positif yang ditujukan kepada orang lain. Ini adalah tindakan “satu sama lain,” sesuai dengan berbagai perintah di Perjanjian Baru tentang bagaimana kita memperlakukan sesama yang telah Tuhan tempatkan di sekitar kita.

Setiap “satu sama lain” adalah ekspresi dari Perintah Agung untuk mencintai sesama kita seperti kita mencintai diri kita sendiri. Saling mendahului dalam memberi hormat, saling mengampuni sebagaimana Kristus telah mengampunimu, sabar seorang terhadap yang lain, rendahkanlah diri seorang kepada yang lain. Ekspresi yang luas dari prinsip Hukum Perjanjian Lama ini menjelaskan bagaimana kita dapat hidup di dalam komunitas dan menawarkan instruksi yang sangat diperlukan untuk menjaga kebaikan bersama. Menemukan cara yang bermakna untuk mengasihi satu sama lain bukan sekadar "sebuah ide yang bagus" atau "saran yang baik," melainkan merupakan suatu kerja keras yang perlu dilakukan bagi kesejahteraan komunitas.

Namun untuk dapat benar-benar mengasihi satu sama lain, kita harus mengarahkan usaha kita untuk hidup saleh tidak hanya kepada orang lain, tetapi juga bagi diri sendiri. Panggilan untuk mengasihi sesama kita diberikan dalam kaitan dengan bagaimana kita mengasihi diri kita sendiri. Secara eksplisit perintah ini menghubungkan kesehatan rohani seseorang dengan kesehatan komunitas.

Namun secara naluriah kita membagi dosa kita menjadi dua kategori: Dosa yang mempengaruhi sesama kita dan dosa yang hanya mempengaruhi diri kita. Ilah individualisme kuno membisikkan bahwa beberapa dosa hanya antara Tuhan dan saya. Jika ada konsekuensinya, maka dosa itu hanya akan berdampak pada saya. Hal ini sama sekali tidak benar. Pesan yang konsisten dari Alkitab adalah ini: Dosa pribadi akan senantiasa menghasilkan penderitaan tambahan.

Pikirkan tentang Akhan, yang percaya bahwa dia bisa mengambil rampasan perang untuk dirinya sendiri dan menyembunyikannya di dalam tendanya (Yos. 7). Hukuman Tuhan bukan hanya terhadap Akhan, melainkan seluruh rumah tangganya juga membawa pulang pelajaran bahwa dosa pribadi adalah dosa terhadap sesama kita. Kesejahteraan komunal dirugikan oleh pemberontakan individu.

Kita tidak jauh berbeda dari Akhan. Kita mengatakan kebohongan yang sama pada diri kita sendiri ketika kita tunduk pada ilah individualisme: “Selama keegoisan saya tersembunyi, selama saya tidak bertindak secara terbuka atas dorongan saya untuk meremehkan, selama tidak ada yang tahu kecanduan saya pada perilaku ini, atau zat ini, atau kepahitan saya sendiri, maka tidak ada yang dirugikan kecuali saya sendiri.” Tetapi dosa pribadi menghasilkan penderitaan tambahan.

Mengapa demikian? Karena apa yang kita lakukan di tempat rahasia adalah cerminan yang paling akurat tentang siapa diri kita sebenarnya. Hal tersebut mengungkapkan motivasi hati kita, yang luapannya akan selalu memercik ke sesama kita. Dosa pribadi menghasilkan penderitaan tambahan. Tetapi inilah kabar baiknya: Kekudusan pribadi menghasilkan berkat tambahan.

#Pesan yang konsisten dari Alkitab adalah ini: Dosa pribadi menghasilkan penderitaan tambahan, tanpa gagal.

Sebagaimana dosa yang dilakukan secara diam-diam akan diseret ke dalam terang, demikian pula pekerjaan baik yang dilakukan secara rahasia akan diberi pahala oleh Tuhan (Mat. 6:1–18). Ketika kasih, sukacita, damai sejahtera, dan kesabaran menjadi perenungan harian kita; ketika kemurahan, kebaikan, dan kesetiaan menjadi pola pikir kita; ketika kelemahlembutan dan pengendalian diri menjadi andalan kita, maka seluruh kebajikan ini akan terpancar keluar dari hati kita dan menjadi sumber berkat bagi sesama kita.

Mau tak mau kita akan berelasi dengan sesama kita dengan cara yang tulus ketika kebajikan-kebajikan ini menjadi konten dari karakter kita. Kekudusan pribadi yang tidak lazim amatlah sulit dicari, namun bermanfaat bagi kepentingan bersama.

Jadi, mungkin cara yang paling mendasar untuk “mengasihi sesamamu seperti mengasihi dirimu sendiri” adalah dengan “berusaha… kejarlah kekudusan” (Ibr. 12:14). Bagaimana jika puasa pribadi dari media sosial mendorong Anda semakin bersemangat untuk membangun persahabatan secara tatap muka? Bagaimana jika keputusan diam-diam untuk menunda membeli sesuatu membuat Anda menjadi lebih murah hati? Bagaimana jika beristirahat dari pekerjaan membuat Anda memperlakukan keluargamu dengan lebih baik? Ini pendekatan yang tidak lazim, setidaknya-sebuah jalan yang jarang dilalui, jalan yang sempit-namun menjadi jalan utama yang ditempuh oleh Imam Besar Agung kita, yang telah dicobai dalam segala cara seperti kita, hanya tidak berbuat dosa. Kekudusan pribadi yang tidak lazim, sulit dicari, namun dicurahkan demi kebaikan bersama.

Mengantarkan makanan kepada seseorang tentu saja merupakan bukti kita mengasihi sesama kita. Tetapi bertobat dan berbalik dari dosa “pribadi” kita juga bukti bahwa kita mengasihi sesama kita. Dengan memilih untuk turut berjalan di jalan sempit seperti Sang Juruselamat, maka kita dapat mengasihi sesama kita dengan berlimpah-limpah.

Jen Wilkin adalah seorang istri, ibu, dan pengajar Alkitab. Dia adalah penulis Women of the Word dan None Like Him. Cuitannya di @jenniferwilkin.

Diterjemahkan oleh: Timothy Daun

[ This article is also available in English Português 简体中文, and 繁體中文. See all of our Indonesian (Bahasa Indonesia) coverage. ]