Sebelum membaca artikel ini, mulailah dengan melafalkan alfabet di kepala Anda.

Ada alasan mengapa Anda baru saja melawan godaan kuat untuk bersenandung. Itu alasan yang sama mengapa Anda dapat mengingat lagu pendek dari masa kanak-kanak dan lirik lagu rok favorit Anda, tetapi sulit mengingat kode sandi pengaman yang baru saja Anda buat minggu lalu.

Jika Anda dapat menyebutkan nama semua 50 negara bagian atau 66 kitab dalam Alkitab, saya menebak itu karena lagu. Guru sekolah minggu, pekerja pemasaran, penulis himne, bintang musik rok, dan guru taman kanak-kanak, semuanya sangat menyadari bahwa “apa yang dipelajari dalam sebuah lagu akan terus diingat dalam waktu yang lama.”

Dan ilmu saraf mendukung hal ini. Menyandingkan informasi dengan musik membantu hipokampus otak kita mendapatkan informasi tersebut dengan mudah. Musik adalah sarana pengajaran yang kuat, dan sebelum disiplin ilmu saraf ada, para pengikut Yahweh telah menggunakan sarana tersebut.

Nyanyian Miriam dalam Keluaran 15 disusun untuk memateraikan memori akan transendensi Allah ke dalam kesadaran umat-Nya. Seratus lima puluh mazmur, yang syairnya sendiri sangat berpengaruh, ditulis untuk dinyanyikan. Anak-anak Allah sangat memahami kebutuhan mereka untuk diingatkan melalui syair rohani yang ditata dalam melodi. Bagaimanapun juga, kita memiliki sejarah yang panjang karena melupakan dan dipanggil kembali untuk mengingat. Musik ditambah kata-kata sama dengan pengingat.

Tetapi musik tidak hanya membantu untuk mengingat. Kata-kata yang ditata bersama musik memiliki efek formatif yang sangat kuat. Lirik apa pun yang kita dengar atau nyanyikan dapat membentuk kita dengan benar atau keliru, tergantung pada isi lirik tersebut.

Dalam kelompok kaum muda saya di tahun 1980-an, kami didesak untuk menghancurkan rekaman dan kaset yang mungkin akan menyesatkan kami ke jalur musik sekuler. Jika Anda pernah mengunduh versi bersih dari sebuah lagu (yang tidak mengandung kata-kata atau bahasa makian atau seni yang bersifat seksual, kekerasan, atau menyinggung) alih-alih versi eksplisitnya (lagu yang sama tapi mengandung kata-kata atau bahasa makian atau seni yang bersifat seksual, kekerasan, atau menyinggung), Anda akan mengenali kekuatan formatif dari lirik-lirik. Rohani atau sekuler, lagu-lagu yang kita dengarkan sedang membentuk kita. Hal ini seharusnya mengejutkan kita dan membuat kita berpikir. Bagaimana lirik lagu dalam ibadah membentuk kita?

Apakah musik rohani hanya menggerakkan kita pada saat ini saja, atau membentuk kita untuk setia seumur hidup?

Yakobus 3:1 memperingatkan agar jangan banyak dari kita yang menjadi guru, sebab kita tahu, bahwa sebagai guru kita akan dihakimi menurut ukuran yang lebih berat. Saya hafal ayat itu dalam versi NIV yang lama sebagai “Janganlah banyak dari kamu yang menganggap diri sebagai guru.” Berbahaya jika menganggap diri bisa mengajar; sama berbahayanya jika menganggap bahwa musik yang kita nyanyikan dalam kebaktian kita tidak bernilai pengajaran. Pada hari Rabu, tiga poin khotbah pendeta akan dilupakan, tetapi bagian refrein dari lagu penyembahan masih didengungkan, karena pesannya berulang di dalam benak kita.

Maka penting untuk disadari, apakah mereka yang memimpin kita dalam pujian melihat tugas mereka sebagai yang menciptakan suasana hati atau memori. Jika yang diutamakan adalah suasana hati, maka lirik bisa menjadi kurang penting dibanding vokal dan instrumentasi. Jika yang diutamakan adalah memori, maka lirik sangatlah penting. Seperti Mazmur, lirik-lirik harus bisa berdiri sendiri, entah dipadukan dengan musik atau tidak.

Akan tetapi faktor-faktor lain juga bersifat formatif. Apakah kita menyanyikan musik yang berfokus pada individu atau kebersamaan? Apakah hubungan syairnya dengan Alkitab jelas, atau apakah kita menyanyikan syair yang berisi campuran pemikiran kristiani yang samar-samar? Apakah reaksi jemaat merupakan ukuran utama dari nilai sebuah lagu?

Buletin-buletin gratis

Buletin-buletin lainnya

Singkatnya, apakah musik rohani hanya menggerakkan kita pada saat ini atau membentuk kita untuk setia seumur hidup? Menganggap diri mampu untuk menulis, memilih lagu, atau memimpin musik rohani berarti juga menganggap diri mampu untuk mengajar. Ini bukanlah pertanyaan apakah lagu-lagu kita mengajarkan sesuatu, melainkan apa yang diajarkan dari lagu-lagu kita.

Dalam zaman meluasnya kebutahurufan biblikal dan teologis, para pemimpin harus memilih lagu dengan hati-hati. Dalam kepemimpinan kita, banyak dari mereka yang akan menyanyikan lagu pujian adalah bayi-bayi rohani. Bayangkan jika lirik lagu ABC itu hanya 85 persen akurat. Bagi banyak orang, pertemuan hari Minggu adalah perjumpaan pertama mereka dengan gereja lokal. Sebelum mereka menghadiri kelas katekisasi atau pendalaman Alkitab, mereka akan duduk dalam kebaktian hari Minggu dan menerima pengajaran, tidak hanya melalui khotbah melainkan juga melalui nyanyian.

Sebagai seseorang yang berdedikasi untuk memerangi kebutahurufan biblikal di gereja, permohonan saya kepada para pemimpin gereja adalah: Pilihlah lagu yang mengajar dengan benar.

Pilihlah lagu-lagu yang melatih anak-anak rohani dalam bahasa alkitabiah, ajaran yang sehat, dan disiplin rohani. Ukirlah jalur memori jauh di dalam pikiran mereka, sehingga pemikiran yang benar dapat mengarahkankan pada perasaan yang benar, dan perasaan yang benar dapat memotivasi perbuatan yang benar. Berikanlah anak-anak Tuhan karunia memori yang indah di tengah pikunnya zaman ini. Ajari mereka untuk menyanyikan iman mereka.

Jen Wilkin adalah seorang istri, ibu, dan pengajar Alkitab. Dia adalah penulis Women of the Word dan None Like Him. Cuitannya di @jenniferwilkin.

Diterjemahkan oleh: David Alexander Aden

-

[ This article is also available in English. See all of our Indonesian (Bahasa Indonesia) coverage. ]