Seharusnya tidak mengejutkan bahwa Paskah adalah kesempatan yang sangat baik untuk menjangkau orang-orang yang biasanya tidak menghadiri ibadah secara teratur. Statistik menunjukkan bahwa meskipun angka kehadiran meningkat pada Paskah, lonjakan ini seringkali tidak berlangsung lama dan jumlah kehadiran akan segera kembali normal setelah hari besar ini berakhir. Kesempatan seperti ini tidak boleh disia-siakan dengan pendekatan “yang itu-itu lagi,” terutama bila menyangkut aspek visual gereja.

Kami telah merancang media ibadah selama dua belas tahun, dan setiap tahun kami selalu menghadapi “tantangan Paskah.” Bagi kami, selalu sulit untuk menemukan cara baru dan menyegarkan untuk menyajikan secara kreatif dan visual kisah Paskah yang sudah sangat dikenal. Selain gambaran standar tentang kubur kosong, salib, dan bunga bakung, lalu apa lagi? Apakah memungkinkan untuk membuat multimedia yang berkesan untuk Paskah, yang dapat menginspirasi, mempertahankan, dan bahkan mengubah arus pengunjung yang berjalan melewati pintu gereja pada Minggu pagi yang istimewa itu? Jelas, kami pikir ini tidak hanya mungkin, melainkan juga sangat perlu.

Menceritakan kisah melalui metafora

Cara yang bagus untuk membuat Paskah kali ini semakin berkesan adalah dengan menggunakan teknik metafora. Metafora memungkinkan kita untuk menceritakan kisah dengan cara yang terhubung dengan pengalaman sehari-hari individu, baik orang percaya maupun yang tidak percaya. Kami mendefinisikan metafora sebagai cara yang nyata untuk mengekspresikan cerita, pemikiran, atau ide abstrak. Metafora memungkinkan kita untuk membuat hal yang asing terasa akrab dan menempatkan Injil ke dalam bahasa sehari-hari—baik lisan maupun visual.

Metafora kadang-kadang dianggap sebagai kata kunci industri periklanan, dan metafora hanya punya sedikit tempat di dalam penyembahan, atau mungkin tidak punya tempat sama sekali. Namun, barang siapa gagal mengeksplorasi kekuatan komunikasi yang datang melalui metafora berarti gagal pula memahami bahwa metafora sering digunakan oleh Yesus dalam pelayanan publik-Nya.

Dalam Markus 4, Yesus menceritakan perumpamaan tentang sang penabur, perumpamaan terpanjang di dalam Injil (ay.3-9). Setelah itu, ketika orang banyak telah pergi dan para murid sendirian dengan Yesus, para murid menyatakan kepada-Nya bahwa mereka tidak tahu arti dari perumpamaan yang Ia ceritakan. Lalu Ia meluangkan waktu untuk menjelaskan seluruh perumpamaan itu kepada mereka, bahkan benar-benar menghabiskan waktu lebih banyak untuk menjelaskannya daripada untuk perumpamaan itu sendiri (ay.10-20).

Namun yang menarik adalah apa yang terjadi selanjutnya. Alih-alih menyimpulkan bahwa penyampaian kabar baik yang kreatif seperti itu tidak berhasil, Ia terus berbicara dalam perumpamaan, menceritakan perumpamaan tentang pelita di atas kaki dian (ay.21-25), benih yang tumbuh (ay.26-29), dan biji sesawi (ay.30-32). Dan momen terbaik terdapat dalam ayat 33 dan 34: “Dalam banyak perumpamaan yang semacam itu Ia memberitakan firman kepada mereka sesuai dengan pengertian mereka, dan tanpa perumpamaan Ia tidak berkata-kata kepada mereka, tetapi kepada murid-murid-Nya Ia menguraikan segala sesuatu secara tersendiri.”

Yesus tidak menggunakan perumpamaan sekadar sebagai sebuah alternatif untuk “orang-orang bodoh” di tengah orang banyak. Ia mengerti bahwa untuk mengomunikasikan ide dengan efektif, Ia harus menyajikan pengajaran-Nya dengan cara yang masuk akal bagi pendengar-Nya. Audiens kita hari ini tidaklah berbeda. Orang-orang mendengarkan paling baik ketika diajak bicara dalam bahasa yang familiar. Inilah inti dari metafora.

Menerapkan metafora pada cerita Paskah

Bagi banyak orang, gagasan tentang seorang ilah mahatahu yang mengirim putra satu-satunya ke bumi untuk mati demi dosa umat manusia, hanya untuk dibangkitkan dari kematian, bisa jadi sulit dipahami. Melalui metafora, kita dapat membingkai cerita dengan menggunakan objek, latar belakang situasi dan kondisi, serta pengalaman yang familiar sehingga membuat cerita tersebut lebih mudah dipahami.

Article continues below

Buletin-buletin gratis

Buletin-buletin lainnya

Beberapa tahun yang lalu, kami mulai bertukar pikiran tentang metafora untuk masa Paskah yang akan datang. Kami berfokus pada Yohanes 20:1-18. Dalam cerita itu, Maria Magdalena kembali ke kubur Yesus pada pagi Paskah, dan ia putus asa karena berpikir tubuh Yesus telah dipindahkan. Setelah bertemu dengan dua malaikat, ia menoleh kepada orang yang dia yakini sebagai tukang kebun dan memohon padanya untuk memberi tahu di mana tubuh Tuhannya telah dibawa. "Si tukang kebun" menjawab dengan memanggil nama Maria, mengungkapkan kepadanya bahwa sebenarnya Dia-lah Yesus. Dengan gembira, Maria berteriak, “Rabuni” (“guru”) dan kemudian, kami menyimpulkan, ia mengulurkan tangan untuk memeluk Yesus.

Beberapa orang mungkin mengatakan bahwa tanggapan Yesus agak kasar. Dia menanggapi kasih sayang Maria dengan mengatakan, “Janganlah engkau memegang Aku, sebab Aku belum pergi kepada Bapa.”

Mengapa kata-kata pertama-Nya adalah justru mendorong Maria menjauh? Setelah banyak diskusi, kami mulai bersemangat tentang gagasan bahwa Yesus menyuruh Maria melepaskan apa yang sebelumnya ia ketahui tentang Yesus. Dia yang Maria kenal bukan lagi hanya manusia duniawi, melainkan kini Ia adalah Kristus yang telah bangkit. Tersirat dalam pernyataan Yesus kepada Maria, kami menyadari bahwa itu adalah peringatan tentang kecenderungan manusia untuk mencoba berpegang pada pengalaman kita tentang Tuhan. Kita takut bahwa kita akan kehilangan kesadaran akan hubungan dengan Tuhan, atau bahkan bahwa kita telah “kehilangan” Tuhan atau bahwa hubungan kita dengan-Nya tidaklah valid. Kita harus rela melepaskan pengalaman masa lalu, tidak peduli seberapa kuatnya, dan terus mendefinisikan kembali apa artinya menjadi pengikut Tuhan di setiap tahap kehidupan kita. Selain itu, pengalaman iman kita dimaksudkan untuk dibagikan, bukan disimpan, seperti yang Yesus katakan kepada Maria untuk membagikan berita kebangkitan-Nya kepada para murid (ay. 17).

Kebaktian Paskah yang menyegarkan dan berkesan kuat

Kami membangun seluruh kebaktian di seputar konsep ini, dengan gambar utama seorang gadis kecil yang melihat kupu-kupu yang telah ditangkapnya dan ditempatkan di dalam toples. Video pembukaan menampilkan si anak mengejar, menangkap, dan akhirnya melepas kupu-kupu tersebut. Kemudian dilanjutkan dengan sebuah drama yang menampilkan diskusi seorang ibu dan anaknya tepat setelah anak itu dengan enggan melepaskan kupu-kupunya. Saat jemaat memasuki ruang ibadah mereka juga diberikan kupu-kupu origami yang terbuat dari kertas tisu untuk digunakan selama waktu doa, dan untuk kemudian digunakan dalam merenungkan pengalaman ibadah. Sang pendeta bahkan memasukkan metafora itu ke dalam khotbah, memegang sebuah toples tinggi-tinggi sambil ia berbicara tentang menimbun, dan dalam proses sebenarnya sedang membunuh, memori iman kita.

Article continues below

Seperti setiap metafora yang baik, kupu-kupu di dalam toples membuka segala macam kemungkinan kreatif untuk membagikan kabar baik tentang kebangkitan Yesus pada pagi Paskah. Kebaktian tersebut menjadi sangat bermakna dan membuat Paskah terasa segar dan baru.

Tetapi bagian paling berkesan dari penggunaan metafora untuk mengomunikasikan Injil terjadi ketika kebaktian selesai. Meskipun kami telah melakukannya selama bertahun-tahun dalam pelayanan kami, terkadang hal ini masih mengejutkan kami. Tidak lama setelah Paskah kami menerima surat dari sang pendeta:

Beberapa minggu setelah Paskah, saya menerima telepon dari salah satu anggota gereja saya. Jemaat saya itu dan istrinya sedang berada di tengah neraka pribadi yang sangat berat. Mereka mengalami kesulitan yang luar biasa dengan putra mereka yang masih remaja, sedemikian sulitnya sehingga putranya akan diambil alih perawatannya oleh negara. Ayah yang putus asa ini memberi tahu saya bahwa malam sebelumnya, ia pergi keluar untuk duduk di tepi kolam renang keluarga. Dia mulai berpikir tentang putranya. Ia bertanya-tanya kesalahan apa yang telah ia dan istrinya lakukan selama ini. Saat ia terobsesi dengan kegagalannya sendiri sebagai orang tua, seekor kupu-kupu mendarat di kursi di samping dia dan mengalihkan pikirannya. Ia melihat kupu-kupu itu terbang ke atas dan di sekitar kolam, turun, dan mendarat di kursi lagi. Pria itu berkata bahwa kupu-kupu itu kemudian berhenti sejenak dan terbang. Dan pada saat itu, ia merasakan kehadiran Tuhan bersamanya, menyuruhnya untuk melepaskan kesusahannya terkait putranya dan menyerahkan situasinya kepada Tuhan.

Pada saat itu, pria ini mengalami kehadiran Roh Kudus dan pesan Paskah sekali lagi. Seandainya kami melakukan kebaktian Paskah yang biasa, dan menggunakan semua gambaran dan elemen yang sudah dikenal, momen tersebut mungkin tidak akan terjadi. Tetapi melalui metafora kita dapat membawa Injil keluar dari tembok gereja dan menjadikannya nyata di dunia komunitas iman kita.

Metafora memiliki kemampuan khusus untuk menembus masuk ke dalam pikiran kita terkait pengalaman bersama Tuhan dengan cara yang tidak bisa dilakukan oleh metode lain. Berhari-hari, berminggu-minggu, bahkan bertahun-tahun kemudian, metafora dapat membawa kembali pesan yang perlu kita alami lagi dalam hidup kita untuk memberikan penghiburan, keyakinan, penyembuhan, dan seterusnya.

Hak Cipta © 2007 FaithVisuals.com

Diterjemahkan oleh: Fanni Leets

-

[ This article is also available in English. See all of our Indonesian (Bahasa Indonesia) coverage. ]