“Akhirnya, setelah merenungkan siang dan malam, dengan rahmat Tuhan, saya mulai memahami bahwa kebenaran Tuhan adalah bahwa orang benar hidup oleh karunia dari Tuhan, yaitu oleh iman. Di sini saya merasa seolah-olah saya sepenuhnya dilahirkan kembali dan telah memasuki surga itu sendiri melalui gerbang yang telah dibuka.”

Pada abad keenam belas, dunia berbeda pandangan tentang Martin Luther. Kalangan Katolik mengira Martin Luther adalah “setan dalam rupa manusia.” Kalangan yang lain, yang sebelumnya mempertanyakan teologi Luther, kemudian menyatakan, “Dia sungguh benar!”

Pada zaman kita, hampir 500 tahun kemudian, putusan dari kedua kalangan itu hampir bulat untuk hal yang baik. Baik Katolik maupun Protestan menegaskan bahwa Luther tidak hanya benar dalam banyak hal, melainkan dia juga mengubah arah sejarah Barat menjadi lebih baik.

Pertobatan badai petir

Martin lahir di Eisleben (sekitar 120 mil barat daya Berlin modern) dari pasangan Margaret dan Hans Luder (seperti yang diucapkan secara lokal). Dia dibesarkan di Mansfeld, di mana ayahnya bekerja di tambang tembaga lokal.

Hans mengirim Martin ke sekolah Latin. Kemudian ketika Martin baru berusia 13 tahun, Hans mengirimnya ke University of Erfurt untuk belajar hukum. Di sana Martin memperoleh gelar sarjana muda dan magister dalam waktu tersingkat yang diizinkan oleh statuta universitas. Dia terbukti sangat mahir dalam debat publik sehingga dia mendapat julukan “Sang Filsuf.”

Kemudian pada tahun 1505 hidupnya berubah secara dramatis. Saat Luther, yang ketika itu berusia 21 tahun, berjuang melewati badai petir yang hebat di jalan menuju Erfurt, petir menyambar tanah di dekatnya.

Linimasa
1453 Akhir Kekaisaran Romawi Timur
1456 Gutenberg memproduksi Alkitab cetak pertama
1479 Pendirian Inkuisisi Spanyol
1483 Martin Luther lahir
1546 Martin Luther meninggal
1549 Buku Doa Umum dirilis

“Tolonglah aku, Santa Anna!” teriak Luther. “Aku akan menjadi seorang biarawan!”

Luther yang jujur dan takut berbuat salah itu pun memenuhi sumpahnya: dia menyerahkan semua miliknya dan memasuki kehidupan monastik.

Terobosan spiritual

Luther sangat sukses sebagai seorang biarawan. Dia sangat aktif dalam doa, puasa, dan praktik asketik—bepergian tanpa tidur, menahan dingin yang menusuk tulang tanpa selimut, dan mencambuk dirinya sendiri. Ia kemudian berkomentar, “Jika ada orang yang bisa mendapatkan surga melalui kehidupan seorang biarawan, itu adalah saya.”

Meski dengan cara ini ia berusaha mengasihi Tuhan sepenuhnya, namun ia tidak menemukan ketenangan hati. Ia semakin takut akan murka Tuhan: “Ketika tersentuh oleh luapan keabadian yang sepintas ini, jiwa tidak merasakan dan meminum apa pun kecuali hukuman kekal.”

Selama tahun-tahun awalnya, setiap kali Luther membaca apa yang akan menjadi “teks Reformasi” yang terkenal—Roma 1:17—matanya tidak tertuju pada kata “iman,” tetapi pada kata “benar.” Lagi pula, siapa yang bisa “hidup oleh iman” selain mereka yang sudah benar? Teksnya sudah jelas: “orang benar akan hidup oleh iman.”

Luther berkomentar, “Saya membenci kata itu, ‘kebenaran Allah,’ yang dengannya saya telah diajar menurut kebiasaan dan yang dianut oleh semua guru ... [bahwa] Allah itu benar dan menghukum orang berdosa yang tidak benar.” Luther muda tidak dapat hidup dengan iman karena dia tidak benar—dan dia mengetahuinya.

Sementara itu, ia diperintahkan untuk mengambil gelar doktor di bidang Alkitab dan menjadi profesor di Wittenberg University. Selama kuliah tentang Mazmur (di tahun 1513 dan 1514) serta mempelajari kitab Roma, dia mulai melihat jalan keluar dari dilemanya. “Akhirnya, setelah merenungkan siang dan malam, dengan rahmat Tuhan, saya … mulai memahami bahwa kebenaran Tuhan adalah bahwa orang benar hidup oleh karunia dari Tuhan, yaitu oleh iman… Di sini saya merasa seolah-olah saya sepenuhnya dilahirkan kembali dan telah memasuki surga itu sendiri melalui gerbang yang telah dibuka.”

Article continues below

Buletin-buletin gratis

Buletin-buletin lainnya

Setelah memperoleh pemahaman baru ini, muncullah pemahaman-pemahaman yang lainnya. Bagi Luther, gereja bukan lagi institusi yang ditentukan oleh suksesi kerasulan; sebaliknya, gereja adalah komunitas orang-orang yang telah dianugerahi iman. Keselamatan datang bukan melalui sakramen-sakramen, melainkan oleh iman. Gagasan bahwa manusia memiliki percikan kebaikan (cukup untuk mencari Tuhan) bukanlah sebuah landasan teologi melainkan hanya diajarkan oleh “orang bodoh.” Kerendahan hati bukan lagi suatu kebajikan yang menghasilkan rahmat melainkan suatu respons yang dibutuhkan terhadap pemberian anugerah dari Tuhan. Iman bukan lagi soal menyetujui ajaran gereja melainkan memercayai janji Allah dan karya Kristus.

Tidak lama kemudian revolusi dalam hati dan pikiran Luther pun terjadi di seluruh Eropa.

“Di sini aku berdiri”

Ini dimulai pada malam perayaan Hari Semua Orang Kudus, tahun 1517, ketika Luther secara terbuka menyatakan keberatan terhadap cara pengkhotbah Johann Tetzel menjual surat pengampunan dosa. Ini adalah dokumen yang disiapkan oleh gereja dan dibeli oleh orang-orang, baik untuk diri mereka sendiri atau dengan mengatasnamakan orang-orang yang sudah meninggal, agar mereka dibebaskan dari hukuman dosa. Seperti yang dikhotbahkan Tetzel, “Begitu koin uang jatuh berdenting di kotak persembahan, jiwa di api penyucian bangkit menuju surga!”

Luther mempertanyakan perdagangan surat pengampunan dosa oleh gereja dan menyerukan debat publik tentang 95 dalil yang telah ditulisnya. Namun 95 dalilnya justru menyebar ke seluruh Jerman sebagai seruan untuk reformasi, dan dengan cepat, persoalan itu bukan lagi menjadi soal surat pengampunan dosa melainkan soal mempertanyakan otoritas gereja: Apakah Paus memiliki hak untuk mengeluarkan surat pengampunan dosa?

Kejadian demi kejadian terjadi dengan cepat. Pada sebuah debat publik di Leipzig di tahun 1519, ketika Luther menyatakan bahwa “seorang awam sederhana yang dipersenjatai dengan Kitab Suci” lebih tinggi daripada Paus dan konsili-konsili yang tanpa Kitab Suci, dia diancam untuk di-ekskomunikasi.

Luther menjawab ancaman itu dengan tiga risalahnya yang paling penting: The Address to the Christian Nobility, The Babylonian Captivity of the Church, dan On the Freedom of a Christian. Yang pertama, dia berargumen bahwa semua orang Kristen adalah imam, dan dia mendesak para penguasa untuk melakukan reformasi gereja. Yang kedua, dia mengurangi tujuh sakramen menjadi dua (baptisan dan Perjamuan Kudus). Yang ketiga, dia mengatakan kepada orang-orang Kristen bahwa mereka bebas dari hukum (khususnya hukum gereja) tetapi terikat dalam kasih kepada sesama mereka.

Pada tahun 1521 ia dipanggil ke majelis di Worms, Jerman, untuk menghadap Charles V, Kaisar Romawi Suci. Luther tiba dengan persiapan untuk debat lain; namun dia dengan cepat menyadari bahwa itu adalah pengadilan di mana dia diminta untuk menarik kembali pandangannya.

Luther menjawab, “Kecuali saya dapat diinstruksikan dan diyakinkan dengan bukti dari Kitab Suci atau dengan alasan yang terbuka, jelas dan kuat ... maka saya tidak dapat dan tidak akan menarik kembali apa pun, karena sangatlah tidak tepat atau bijaksana untuk bertindak melawan hati nurani.” Kemudian dia menambahkan, “Di sini saya berdiri. Saya tidak bisa melakukan yang lain. Tuhan tolong saya! Amin.”

Pada saat dikeluarkannya maklumat kekaisaran yang menyebut Luther “seorang penganut bidah,” dia telah melarikan diri ke Kastil Wartburg, di mana dia bersembunyi selama sepuluh bulan.

Article continues below

Pencapaian-pencapaian dari seorang pria yang sakit

Pada awal musim semi 1522, ia dapat kembali ke Wittenberg untuk memimpin, dengan bantuan orang-orang seperti Philip Melanchthon, pemimpin muda dari gerakan reformasi.

Selama tahun-tahun berikutnya, Luther semakin terlibat dalam berbagai perdebatan, banyak di antaranya memecah belah teman dan musuh. Ketika kerusuhan mengakibatkan Perang Petani Jerman di tahun 1524-1525, ia mengutuk para petani dan mendesak para pangeran untuk menghancurkan pemberontakan.

Dia menikah dengan seorang biarawati yang melarikan diri, Katharina von Bora, yang menghebohkan banyak orang. (Bagi Luther, keterkejutannya adalah bangun di pagi hari dengan “kuncir di atas bantal di sebelah saya.”)

Dia mengejek rekan-rekan reformis, terutama reformis Swiss Ulrich Zwingli, dan menggunakan bahasa vulgar ketika mengejek.

Bahkan ia semakin tua semakin tidak sabar dan suka berbantahan. Dalam tahun-tahun terakhirnya, dia mengatakan beberapa hal buruk, antara lain tentang orang-orang Yahudi dan Paus serta para lawan teologisnya, dengan kata-kata yang tidak pantas untuk dicetak.

Meskipun demikian, pencapaian-pencapaiannya juga meningkat: penerjemahan Alkitab ke dalam bahasa Jerman (yang tetap menjadi ciri khas sastra dan biblikal); penulisan himne “Allah Bentengku yang Teguh”; dan menerbitkan Katekismus Besar dan Katekismus Kecil, yang telah memandu tidak hanya kalangan Lutheran saja melainkan juga banyak orang.

Tahun-tahun berikutnya sering ia habiskan dalam sakit dan aktivitas yang berapi-api (pada tahun 1531, meskipun dia sakit selama enam bulan dan menderita kelelahan, dia mengkhotbahkan 180 khotbah, menulis 15 traktat, mengerjakan terjemahan Perjanjian Lama, dan melakukan sejumlah perjalanan). Namun pada tahun 1546, dia akhirnya sangat kelelahan.

Warisan Luther sangat besar dan tidak dapat diringkas secara memadai. Setiap Reformis Protestan—seperti Calvin, Zwingli, Knox, dan Cranmer—dan setiap aliran Protestan—Lutheran, Reformed, Anglikan, dan Anabaptis—diilhami oleh Luther dalam satu atau lain cara. Dalam pandangan yang lebih luas, reformasinya melepaskan kekuatan yang mengakhiri Abad Pertengahan dan mengantar dunia masuk ke era modern.

Dikatakan bahwa di sebagian besar perpustakaan, buku-buku karya dan tentang Martin Luther menempati lebih banyak rak daripada buku-buku yang berkaitan dengan figur lain kecuali Yesus dari Nazaret. Meskipun sulit untuk diverifikasi, orang dapat memahami mengapa hal itu mungkin benar.

DARI BUKU: 131 Orang Kristen Yang Harus Diketahui Semua Orang

Translated by Budi M. Winata.

-

[ This article is also available in English. See all of our Indonesian (Bahasa Indonesia) coverage. ]