Jump directly to the Content

News&Reporting

Umat Kristen India Memohon Dukungan Doa Karena Wabah Virus Membanjiri Krematorium

Kekurangan oksigen yang parah adalah salah satu dari banyak tantangan yang terjadi ketika India menderita lonjakan kasus COVID-19 dan kematian terburuk di dunia.
English
Umat Kristen India Memohon Dukungan Doa Karena Wabah Virus Membanjiri Krematorium
Image: Altaf Qadri / AP Photo
Pada 24 April, banyak tumpukan kayu pemakaman korban COVID-19 India dibakar di wilayah New Delhi yang diubah untuk kremasi massal.

Dengan kurangnya pasokan tabung oksigen, keluarga dibiarkan mengangkut sendiri orang yang sakit COVID-19 dari satu rumah sakit ke rumah sakit lainnya untuk mencari perawatan karena India dilanda lonjakan infeksi yang membinasakan. Seringkali, usaha mereka berakhir dengan perkabungan.

Di media sosial dan tayangan televisi, para kerabat yang putus asa memohon untuk mendapatkan tabung oksigen di luar rumah sakit atau mencucurkan air mata di pinggir jalan untuk orang-orang yang mereka kasihi yang meninggal ketika menantikan perawatan.

India telah mencetak rekor harian global dari infeksi virus Corona baru, dipicu oleh varian baru berbahaya yang muncul di sini.

Pada hari Jumat, jumlah kasus baru yang terkonfirmasi menembus 400.000 untuk ketiga kalinya sejak gelombang dahsyat ini dimulai bulan lalu. Adanya 414.188 kasus baru mendorong penghitungan resmi India menjadi lebih dari 21,4 juta, mendekati jumlah kasus di Amerika Serikat.

Kementerian Kesehatan juga melaporkan 3.915 kematian baru pada hari Jumat, sehingga total yang terkonfirmasi lebih dari 234.000 (mendekati jumlah di Amerika Serikat dan Brasil). Para pakar kesehatan percaya kedua angka itu sebenarnya masih kurang dari jumlah yang sebenarnya.

Para pemimpin gereja dan pelayanan Kristen di India telah kewalahan dengan berbagai kasus dan kematian karena COVID-19 di antara staf dan jemaat mereka di tengah ketidaktersediaan perawatan. Sebagai respons, hari ini secara bersama-sama dinyatakan sebagai hari doa dan puasa oleh para pemimpin dari Evangelical Fellowship of India (EFI), National Council of Churches in India (NCCI), dan Catholic Bishops’ Conference of India (CBCI).

Krisis saat ini adalah salah satu masa tergelap dalam sejarah bangsa itu, menurut Prabhu Singh, kepala South Asia Institute of Advanced Christian Studies (SAIACS), sebuah lembaga penelitian injili di Bengaluru.

“Salah satu hasil memilukan dari gelombang kedua yang dahsyat di negara ini adalah kehilangan yang tragis akan para pemimpin senior dari organisasi dan seminari Kristen, serta para pendeta gereja dan pemimpin awam,” katanya kepada CT. “Para pemimpin lainnya juga mengalami ketegangan yang parah saat mereka berjuang untuk mengatasi dampak dari pandemi ini.”

“Kami memperkirakan sekitar 350 hingga 400 pendeta, penginjil, dan uskup telah kehilangan nyawa mereka—dan itu adalah perkiraan angka yang kasar,” kata Vijayesh Lal, sekretaris jenderal EFI, mengutip penghitungan di Maharashtra, Gujarat, Delhi, dan negara bagian lainnya.

“Gereja telah kehilangan banyak pemimpin,” katanya kepada CT. “Dan jika Anda beranggapan bahwa perlu waktu dan upaya untuk membangun kembali kepemimpinan, saya yakin kita sedang menuju ke arah vakumnya kepemimpinan.”

“Krisis kepemimpinan telah melanda gereja di India,” kata Richard Howell, kepala sekolah dari Caleb Institute, sebuah seminari di Haryana, dan mantan sekretaris jenderal EFI.

“Hampir 2.000 pengerja yang diperlengkapi secara teologis, perkiraan angka kasar, telah meninggal di kota-kota India, menurut berita yang secara teratur diberitakan melalui media sosial,” katanya kepada CT. “Namun, di desa-desa di mana sebagian besar orang India tinggal—dalam kemiskinan, tanpa sistem perawatan kesehatan yang layak, gereja mengalami pertumbuhan serta penganiayaan—jumlahnya hampir sama. Dan meningkatnya jumlah hamba Tuhan yang meninggal hanyalah permulaan dari kesengsaraan.”

“Kami belum pernah melihat yang seperti ini di negara ini,” kata Finny Philip, anggota dewan India dari Gerakan Lausanne, dalam sebuah video permohonan yang mendesak untuk berdoa. Dia menjelaskan:

Kremasi dan penguburan massal sedang berlangsung. Jenazah-jenazah dibariskan di trotoar demi tumpukan kayu pembakaran selama tujuh jam, sebelum mereka dikremasi. Mayat-mayat ditumpuk secara tidak manusiawi di berbagai rumah sakit, di luar pusat-pusat kesehatan, dan di dalam ambulans karena kekurangan ruangan di kamar mayat. Kemarin di kota Bengaluru, pemerintah telah menetapkan 265 hektar tanah untuk penguburan dan kremasi demi mengatasi situasi yang menyedihkan itu. Badan pemerintah daerah mengubah taman kota, tempat parkir mobil, dan jalan setapak sebagai tempat kremasi.

“Kami kehilangan 11 orang dari pemimpin utama kami, termasuk dua pasangan pendeta,” kata Philip, seorang pendeta Udaipur dan kepala sekolah Filadelfia Bible College, kepada CT. “Para pendeta sedang berjuang untuk mencukupi biaya pengobatan, dan orang percaya sedang menghadapi masalah keuangan di tengah karantina wilayah secara parsial” dan akibat hilangnya pekerjaan dan pendapatan tetap—terutama di daerah pedesaan.

“Kami telah kehilangan banyak pendeta dan anggota jemaat kami,” kata seorang pendiri gereja injili di Chhattisgarh, yang meminta namanya tidak disebutkan karena kepekaan agama di negaranya, kepada CT. Banyak orang yang bahkan tidak mampu membayar biaya pemakaman untuk menguburkan orang yang mereka cintai.

“Jumlah pendeta yang terkena COVID-19 banyak sekali,” kata Naveen Thomas, ahli bedah senior dan CEO Rumah Sakit Baptist Bangalore, kepada CT. “Sifat mendasar dari pekerjaan dan pelayanan mereka di mana mereka berinteraksi dengan orang-orang mungkin menjadi alasan besar. Mereka membutuhkan banyak doa.”

Rumah sakit Kristen seperti tempatnya bekerja berusaha melayani dengan sebaik mungkin yang mereka bisa.

“Sambil mengakui bahwa kemampuan kita tidak setara dengan tugas yang ada di depan, kita harus memanfaatkan kekuatan cadangan yang hanya dapat diberikan oleh iman,” kata Thomas. “Ada perasaan kalah ketika seseorang harus mengatakan ‘Maaf, tidak ada lagi tempat tidur di ICU’ dan menolak beberapa dari mereka. Namun pada saat yang sama, sangat membesarkan hati ketika melihat iman dalam tindakan—yang membuat perbedaan di saat kita bisa. ”

Ambulans yang membawa pasien COVID-19 berbaris menunggu giliran untuk menuju ke rumah sakit pemerintah khusus COVID-19 di Ahmedabad, India, pada 22 April.
Image: Ajit Solanki / AP Photo

Ambulans yang membawa pasien COVID-19 berbaris menunggu giliran untuk menuju ke rumah sakit pemerintah khusus COVID-19 di Ahmedabad, India, pada 22 April.

Berlangsungnya krisis ini terlihat paling nyata di berbagai pekuburan dan krematorium India yang kewalahan, dan dalam foto-foto yang memilukan dari para pasien sekarat yang terengah-engah dalam perjalanan ke rumah sakit karena kekurangan oksigen.

Tempat-tempat pemakaman di ibu kota New Delhi kehabisan ruang. Tumpukan kayu pemakaman yang membara dan bersinar menerangi menerangi langit malam di kota-kota lain yang terkena dampak parah.

Di pusat kota Bhopal, beberapa krematorium telah meningkatkan kapasitasnya dari lusinan tumpukan kayu menjadi lebih dari 50 tumpukan. Itu pun masih perlu menunggu berjam-jam.

Di krematorium Bhadbhada Vishram Ghat di kota itu, para pekerja mengatakan mereka mengkremasi lebih dari 110 orang pada hari Sabtu, bahkan ketika angka dari pemerintah di seluruh kota yang berpenduduk 1,8 juta menyebutkan jumlah total kematian akibat virus hanyalah 10.

“Virus tersebut menelan penduduk kota kami seperti monster,” kata Mamtesh Sharma, seorang petugas di tempat tersebut.

Banyaknya jumlah jenazah yang belum pernah terjadi sebelumnya telah memaksa krematorium untuk melewatkan upacara individu dan ritual lengkap yang diyakini oleh umat Hindu dapat melepaskan jiwa dari siklus kelahiran kembali.

“Kami hanya membakar mayat-mayat saat mereka tiba,” kata Sharma. “Ini seakan-akan kita berada di tengah perang.”

Kepala penggali kubur di pemakaman Muslim terbesar di New Delhi, di mana terdapat 1.000 orang dimakamkan selama pandemi, mengatakan sekarang datang lebih banyak mayat dibandingkan tahun lalu. “Saya khawatir kita akan segera kehabisan ruang,” kata Mohammad Shameem.

Di Bengaluru, kelompok multiagama bernama Mercy Angels membantu menguburkan dan memberikan pemakaman yang bermartabat bagi korban COVID-19 yang meninggal tanpa membebani biaya kepada keluarga yang berduka. “Kami bekerja selama 20–22 jam dalam sehari. Pikiran saya telah mati rasa, ”kata Anne Morris, seorang relawan Kristen yang berbicara kepada CT di sela-sela penguburan. “Kami semua kelelahan secara fisik dan mental, tetapi kami hanya mendorong diri kami sendiri setiap hari.”

“Kremasi terjadi di mana-mana. Dalam banyak kasus, para kerabat meninggalkan mereka yang meninggal dan melarikan diri,” kata Howell kepada CT. “Kesucian tentang kematian menjadi hilang."

“Membantu orang-orang dari semua agama atau yang tidak beragama dalam kremasi adalah kewajiban orang Kristen untuk menunjukkan kasih Kristus dalam tindakan kepada semua, terutama dalam kesedihan.”

“Sangatlah kristiani untuk bertindak saat ini, terutama dalam suasana ketakutan ini, dan memberikan pemakaman atau kremasi yang layak bagi jenazah,” kata Lal kepada CT.

“Itulah cara untuk mengasihi sesamamu bahkan setelah sesamamu meninggal dunia,” katanya. “Ini adalah pelayanan yang penuh pengorbanan, karena Anda menempatkan diri Anda pada risiko, dan itu adalah hal yang terpuji untuk dilakukan.”

Situasinya sama suramnya di rumah sakit yang penuh sesak, di mana orang-orang yang putus asa sedang mengantre, kadang-kadang di jalan di luar sana, menunggu untuk menemui dokter.

Petugas kesehatan berjuang untuk memperluas unit perawatan kritis dan menyiapkan persediaan oksigen yang semakin menipis. Rumah sakit-rumah sakit dan para pasien sama-sama berjuang untuk mendapatkan peralatan medis yang sangat langka, yang dijual di pasar gelap dengan lonjakan harga secara eksponensial.

Hal ini menjadi dramatis dan sangat kontras dengan adanya klaim dari pemerintah bahwa “tidak ada seorang pun di negara ini yang kekurangan oksigen,” dalam pernyataan yang dibuat Sabtu lalu oleh Jaksa Agung India Tushar Mehta di hadapan Pengadilan Tinggi Delhi.

Orang-orang antre untuk mengisi ulang oksigen di tabung silinder di New Delhi, India, pada 23 April. Banyak korban tewas di rumah sakit di ibu kota India di tengah dugaan bahwa pasokan oksigen yang rendah menjadi penyebabnya.
Image: AP Photo

Orang-orang antre untuk mengisi ulang oksigen di tabung silinder di New Delhi, India, pada 23 April. Banyak korban tewas di rumah sakit di ibu kota India di tengah dugaan bahwa pasokan oksigen yang rendah menjadi penyebabnya.

Kehancuran ini merupakan kegagalan besar bagi negara yang telah mengumumkan kemenangan atas COVID-19 pada bulan Januari dan membanggakan diri sebagai “apotek dunia,” produsen vaksin global dan model bagi negara berkembang lainnya.

Terkejut dengan lonjakan terbaru yang mematikan, pemerintah federal telah meminta para pengusaha industri untuk meningkatkan produksi oksigen dan obat-obatan lainnya yang pasokannya kurang. Tetapi para ahli kesehatan mengatakan India memiliki waktu satu tahun penuh untuk dapat mempersiapkan hal yang tak terhindarkan—dan ternyata tidak.

Sebaliknya, deklarasi kemenangan pemerintah yang terlalu dini mendorong orang-orang untuk rileks ketika mereka seharusnya terus ketat mematuhi untuk menjaga jarak fisik, mengenakan masker, dan menghindari kerumunan orang banyak. Pemerintah juga menghadapi kritik yang meningkat karena mengizinkan festival Hindu dan menghadiri serangkaian kampanye pemilihan umum yang masif, yang menurut para ahli malah mempercepat penyebaran infeksi.

Bahkan, dengan adanya pemblokiran terencana terhadap kritikan semacam itu di Twitter, pemandangan mengerikan dari berbagai rumah sakit dan tempat kremasi yang kewalahan, menyebar luas dan menarik perhatian akan permintaan bantuan.

Presiden Joe Biden mengatakan Amerika Serikat bertekad untuk membantu. “Sama seperti India mengirim bantuan ke Amerika Serikat saat rumah sakit kami mengalami ketegangan di awal pandemi, kami bertekad untuk membantu India pada saat dibutuhkan,” kata Biden dalam cuitannya.

Pihak Gedung Putih mengatakan Amerika Serikat “bekerja sepanjang waktu” untuk mengerahkan alat pengujian, ventilator, dan peralatan pelindung pribadi, dan akan berusaha menyediakan pasokan oksigen juga. Dikatakan juga mereka akan menyediakan sumber bahan mentah yang sangat dibutuhkan untuk memproduksi Covishield, vaksin Oxford-AstraZeneca yang dibuat oleh Serum Institute of India.

Bantuan dan dukungan juga ditawarkan dari rival beratnya, yaitu Pakistan, dari para politisi dan warganya sebagai negara tetangga yang mengekspresikan solidaritas. Kementerian Luar Negeri Pakistan mengatakan bahwa negaranya menawarkan untuk memberi bantuan termasuk ventilator, alat pasokan oksigen, mesin sinar-X digital, APD, dan barang-barang terkait.

Para pemimpin di SAIACS sibuk menyediakan bahan makanan dan makanan siap saji untuk ribuan orang di beberapa negara bagian melalui jaringan alumni seminari.

“Tantangan yang kami hadapi tidak terhitung banyaknya,” kata Singh kepada CT, dengan memberi catatan bahwa para pengajar, staf, mahasiswa, dan keluarga mereka telah terjangkit oleh virus tersebut. “Kami juga kehilangan beberapa alumni terkasih. … Sehubungan dengan krisis ini, pengembangan kepemimpinan Kristen untuk generasi berikutnya menjadi fokus yang teramat penting.

“Saat kami terus melewati medan yang sulit dan wilayah yang belum dipetakan, kami membutuhkan topangan doa dan dukungan tanpa henti dari gereja seluruh dunia sehingga kami dapat terus menjadi garam dan terang bagi bangsa ini selama masa sulit ini.”

Seminari-seminari India dari Nagaland di timur laut jauh ke Kerala di ujung selatan telah mengizinkan asrama dan bagian lain dari kampus mereka diubah menjadi pusat karantina dan pemulihan COVID-19, kata Paul Cornelius, sekretaris regional Asia Theological Association, kepada CT.

“Kami telah menemukan pentingnya keramahtamahan, rasa tanggung jawab kepada komunitas tanpa memandang agama,” kata Ken Gnanakan, seorang teolog dan presiden pendiri ACTS Group of Institutions, kepada CT. “Masa ini telah membawa kami dekat dengan orang-orang yang membutuhkan dan kesempatan untuk menunjukkan kasih seperti Kristus.

“Kami juga telah memberikan bantuan keuangan jika diperlukan. Dapur kami digunakan untuk menyediakan makanan bagi banyak orang dalam kondisi yang mengerikan,” ujarnya. “Kami berjuang dalam pertempuran kami, dan kami mendesak teman-teman kami di seluruh dunia untuk berdoa bagi kami saat kami mengatasi ancaman yang makin meningkat ini.”

“Dalam Ulangan 31:8, kita diingatkan bahwa Tuhan tidak akan pernah membiarkan kita atau meninggalkan kita. Kita diimbau untuk tidak takut atau cemas,” tulis pimpinan EFI, NCCI, dan CBCI dalam menggelar hari Doa Jumat.

“Kita adalah orang-orang yang berpengharapan,” tulis mereka. “Jadi mari kita pada saat ini tidak hanya berdoa untuk bangsa kita tetapi juga menjangkau mereka dalam kasih Kristus dan dalam belas kasihan untuk membantu sesama warga kita, bahkan lebih dari yang sudah kita lakukan. Kasih Tuhan menghalau semua ketakutan.”

Christina Martin melaporkan untuk CT dari Bengaluru. Untuk Associated Press, Sheikh Saaliq melaporkan dari New Delhi dan Aijaz Hussain melaporkan dari Srinagar.

Diterjemahkan oleh: Lius Jayasaputra

[ This article is also available in English. See all of our Indonesian (Bahasa Indonesia) coverage. ]

Read These Next

close