Artikel ini pertama kali diterbitkan pada tahun 2017.

Musim panas ini, pada padang berumput di kampung halaman saya yang kecil, papan-papan tulisan bermunculan. Papan-papan itu menjadi saksi dari apa yang telah terjadi di wilayah kami sepanjang setahun terakhir. Beberapa kasus bunuh diri remaja telah mengguncangkan komunitas kami yang tenang di Lembah Willamette Oregon, dan masyarakat menjadi sangat bingung.

Kami mempertanyakan pertanyaan yang mesti dihadapi oleh berbagai komunitas ketika dikejutkan dan diguncangkan oleh tragedi yang serupa: Mengapa? Mengapa para remaja membunuh diri mereka? Siapa yang harus disalahkan atas keputusasaan mereka? Apa yang bisa dilakukan untuk membendung gelombang kehilangan ini?

Papan-papan tulisan hitam putih tersebut, yang tidak lebih besar daripada papan tulisan yang banyak bermunculan selama masa pemilu, adalah jawaban dari seorang ibu terhadap pertanyaan-pertanyaan tersebut. Pada suatu pagi di akhir pekan, Amy Wolff memasang 20 papan tulisan di sekitaran kota, masing-masing dengan slogan tunggal: “Kamu Berharga." “Jangan Menyerah.” “Kesalahanmu Tidak Menentukan Siapa Engkau.” “Kamu Layak Dicintai.” Hanya dalam beberapa minggu, kampanye Wolff menyebar ke komunitas-komunitas lain di Oregon dan negara-negara bagian sekitarnya.

Berdasarkan bukti pengalaman yang diceritakan, menunjukkan bahwa anak-anak muda, termasuk para siswa di sekolah-sekolah Newberg, menemukan harapan dalam pesan-pesan tersebut; Wolff melaporkan bahwa ia mendengar dari mereka yang telah dikuatkan untuk bertahan hidup meskipun mereka putus asa.

Namun bagi komunitas kita—dan bagi banyak komunitas lainnya, di mana satu kematian akibat bunuh diri berarti terlalu banyak—suatu kampanye positif yang sederhana namun signifikan tidak dapat menjadi akhir dari segala upaya untuk memerangi bunuh diri pada remaja. Sementara menegaskan “Kamu Berharga” merupakan sebuah langkah penting untuk membantu mereka yang sedang berjuang dengan diagnosa gangguan mental, komunitas-komunitas perlu mengambil tindakan lain yang signifikan untuk menjangkau mereka yang sedang bergumul dari waktu ke waktu dengan keputusasaan dan niatan bunuh diri, khususnya di usia yang masih sangat muda.

Menurut Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit di AS, tingkat bunuh diri anak perempuan usia 15-19 tahun naik dua kali lipat di antara tahun 2007 dan 2015, dan ada sedikit peningkatan yang signifikan dalam tingkat bunuh diri anak laki-laki. Sebuah artikel majalah Time pada akhir 2016 menunjukkan bahwa meskipun ada peningkatan yang substansial pada remaja yang mengalami depresi, negara tersebut belum melihat pertumbuhan yang sesuai dalam hal sumber-sumber daya bagi kesehatan mental.

Dalam sebuah studi di 2014, lebih dari tiga juta remaja di AS mengalami masa depresi berat dalam satu tahun terakhir, namun sebagian besar sekolah dan komunitas tetap tidak siap untuk mengatasi tantangan-tantangan yang mereka alami. Mengetahui statistik yang mengejutkan ini, kaum muda negara kita sedang menghadapi krisis kesehatan mental yang besar: sebuah krisis yang harus dihadapi oleh gereja dan misinya yang pro-kehidupan, segera dan dengan penuh kasih.

Saat ini, ada lebih banyak orang Kristen menyadari kebutuhan untuk menjangkau mereka yang memiliki diagnosa gangguan kesehatan mental. Penulis seperti Sarah Lund dan Amy Simpson menyebutkan stigma yang sering menyertai gangguan mental dan menantang para pembaca untuk memandang gangguan mental sebagaimana adanya: suatu kondisi kesehatan yang disebabkan oleh perubahan fisiologis di otak, dan yang dapat menimbulkan penderitaan yang luar biasa, terutama jika dibiarkan tidak tertangani.

Namun, bagi beberapa orang, stigma gangguan mental tetap ada, dan orang-orang di gereja dengan diagnosa ini seringkali menderita dalam diam. Setelah mendengar bahwa sukacita dari Tuhan adalah kekuatan mereka atau bahwa mereka perlu lebih banyak berdoa agar disembuhkan atau bahwa kebahagiaan menyertai umat yang setia, banyak orang yang menderita gangguan mental ini merahasiakannya sebagai sebuah rahasia yang memalukan.

Article continues below

Buletin-buletin gratis

Buletin-buletin lainnya

Salah satu penderita yang memilih diam adalah Madison Holleran, seorang atlet Ivy League yang setelah berbulan-bulan memasuki tahun pertama kuliahnya, kemudian mengakhiri hidupnya pada 2014. Kisahnya diceritakan dalam buku baru yang luar biasa karya Kate Fagan, What Made Maddy Run: The Secret Struggles and Tragic Death of an All-American Teen. Dalam buku What Made Maddy Run, Fagan—seorang penulis untuk ESPN—menceritakan beberapa bulan terakhir kehidupan Madison Holleran, melalui wawancara dengan keluarga dan teman, bersamaan dengan pesan-pesan teks di telepon genggamnya, email, dan akun-akun media sosialnya, untuk mengumpulkan bukti dorongan potensial yang membuat Holleran mengambil keputusan untuk mengakhiri hidupnya.

Secara penampilan, Holleran adalah gambaran hidup yang sempurna. Dari platform media sosialnya, gadis yang berusia 18 tahun itu menampilkan sosok yang selalu bahagia dan positif. Bahkan dalam pergumulan panjangnya selama berbulan-bulan terkait gangguan mental yang semakin dalam, Holleran berusaha untuk menampilkan kepribadian yang berbeda, sehingga membuat kematiannya menjadi sangat mengejutkan bagi banyak orang yang mengenalnya dengan baik.

Sementara Fagan menahan diri untuk mencari tahu alasan mengapa Holleran bunuh diri, buku What Made Maddy Run menunjukkan bahwa tekanan sebagai seorang atlet perguruan tinggi memiliki peran atas keputusan tersebut. Pengalaman Holleran sebagai pelari lintas alam Pennsylvania mencerminkan tekanan intens yang dibebankan kepada para atlet muda.

Lebih penting lagi, sebagian besar mereka dengan penyakit mental mengalami gangguan awal di akhir masa remaja atau di awal masa dewasa; bagi banyak orang, transisi ke perguruan tinggi memperburuk gejalanya dan juga mengisolir si penderita, yang kerap jauh dari dukungan keluarga dan teman-teman dekat. Konektivitas internet yang tersedia tidak banyak membantu untuk mengurangi isolasi tersebut, dan bagi Holleran, yang terpaksa menampilkan gambaran terbaik dari hidupnya di Pennsylvania, media sosial justru lebih memperparah kesepiannya daripada menguranginya.

Bagian dari reportase Fagan termasuk menganalisis pesan-pesan teks dan riwayat perambanan (browsing history) Holleran. Meskipun tidak ada indikasi bahwa Holleran dirundung secara daring, ini adalah ketakutan parental lainnya yang menghubungkan akses internet dengan bunuh diri, meski mungkin untuk alasan yang baik. Dalam sebuah kasus pengadilan baru-baru ini, Michelle Carter dinyatakan bersalah atas pembunuhan yang tidak disengaja karena meyakinkan pacarnya untuk mengakhiri hidupnya; Film dokumenter Audrie and Daisy (siaran di Netflix), memberikan bukti mengerikan bahwa perundungan secara daring memiliki konsekuensi yang menghancurkan, terutama bagi gadis remaja yang mengalami pelecehan seksual.

Sayangnya, kampanye sederhana “Kamu Berharga” tidak cukup untuk menjangkau seseorang yang sedang berjuang keras terhadap gangguan mental, seperti Holleran. Namun, ideologi yang mendasari kampanye itu harus menjadi inti dari keterlibatan gereja dengan orang-orang muda yang berjuang dengan diagnosis gangguan mental: gagasan bahwa setiap orang berharga, karena setiap orang adalah gambaran dari Pencipta kita.

Namun, sebagus-bagusnya, terlalu sering gereja-gereja memberikan pesan yang campur aduk. Beberapa jemaat menyampaikan bahwa kesalahan-kesalahan kita benar-benar mendefinisikan diri kita dan bahwa hal-hal tersebut tidak cukup berharga bagi kita untuk melakukan perubahan yang nyata dan jangka panjang terhadap cara gereja beroperasi. Legalisme yang tampaknya kaku dari beberapa orang Kristen menyatakan pesan bahwa kita perlu menjadi sempurna—hampir tanpa dosa—untuk menjadi bagian dari komunitas Kristen; tidak mengherankan bahwa penelusuran sederhana dari Google tentang “menjadi sempurna sebagai seorang Kristen” menghasilkan lebih dari lima juta sumber. Meskipun kita mengakui ketidaksempurnaan kita sebagai pengikut Yesus, kita mendengar juga bahwa mereka yang beriman tidak akan memiliki pergumulan—atau, pasti, mereka tidak akan menyebutkan pergumulan mereka di gereja.

Article continues below

Saat membaca buku What Made Maddy Run, saya bertanya-tanya apakah kehidupan Holleran dan kampanye Wolff “Kamu Berharga” dapat menginspirasi gereja-gereja untuk berpikir secara berbeda tentang orang-orang muda di komunitas mereka yang menderita gangguan mental. Apa artinya membuat orang-orang muda tahu—sungguh tahu—bahwa mereka penting? Apa artinya membuat mereka tahu bahwa kesalahan mereka tidak mendefinisikan diri mereka, dan bahwa mereka harus bertahan dalam hidup, bahkan ketika tantangan diagnosis gangguan mental membuat mereka terguncang?

Salah satu mitos tentang bunuh diri adalah bahwa semakin sering dibahas, semakin besar kemungkinan orang muda mempertimbangkan untuk melukai diri sendiri. Penelitian menunjukkan bahwa bukan ini masalahnya, dan bahwa membicarakan tentang pemikiran bunuh diri tidak meningkatkan risiko bunuh diri. Gereja perlu mendiskusikan tentang bunuh diri secara lebih terbuka kepada orang-orang muda, dan mereka yang bergumul dalam pemikiran untuk melukai diri sendiri (dan percayalah, orang-orang seperti ini ada di dalam jemaat) ada dalam posisi yang tepat untuk mendorong diskusi tersebut.

Di komunitas asal saya, Nate McIntyre, seorang konselor penerimaan mahasiswa di Universitas George Fox, telah berbicara di kelompok sekolah menengah pertama dan menengah atas tentang pengalamannya dengan depresi, kecemasan, dan pemikiran tentang bunuh diri. Pembicaraan yang disampaikan McIntyre menjadi salah satu cara untuk mengatasi bunuh diri remaja secara langsung, yang memungkinkan remaja untuk melihat bahwa ada orang yang hidup dan bertahan (dan bahkan berhasil) meskipun menderita gangguan mental.

Diskusi-diskusi yang menghilangkan stigma bunuh diri juga mengharuskan kita untuk mengubah bahasa yang kita gunakan ketika berbicara tentang bunuh diri. Kita mungkin cenderung mengatakan bahwa bunuh diri adalah “tindakan egois” atau bahwa orang muda “yang menyerah pada kehidupan,” tetapi penting sekali untuk merangkai ulang bahasa kita untuk mengakui bahwa yang sering terjadi, bunuh diri muncul dari penyakit seseorang dan merupakan suatu usaha untuk mengakhiri penderitaan yang mendalam dan terus berkanjang. Mengetahui hal ini, bahkan ketika berkata seseorang “melakukan bunuh diri” adalah problematis, karena konotasinya bunuh diri adalah sebuah kejahatan, daripada sebuah tindakan keputusasaan yang tragis.

Menamai keputusasaan yang dapat menyertai gangguan mental bisa menjadi pekerjaan yang sulit, sama seperti halnya berjalan bersama mereka yang menghadapi berbagai tantangan dalam mengasuh remaja dengan gangguan mental. Kecenderungan manusia untuk menghindari ketidaknyamanan terkadang berarti bahwa mereka yang sedang bergumul, menghadapi isolasi yang meningkat ketika yang paling mereka butuhkan adalah keterhubungan dengan orang lain. Bagaimanapun juga, kenyamanan adalah sebuah keistimewaan. Pengikut Yesus dipanggil untuk melangkah mendekati, bukan menjauhi, mereka yang membutuhkan dukungan, kasih, dan pengakuan bahwa mereka eksis dan berharga, apapun tantangan-tantangan yang mereka hadapi.

Article continues below

Pada akhirnya, mereka yang melayani kaum muda di gereja perlu memprioritaskan pencegahan bunuh diri melalui berbagai diskusi dan forum, juga dengan memberi tahu para remaja tentang sumber daya yang tersedia untuk mereka dalam komunitas asal mereka. Upaya ini harus komprehensif dan seharusnya tidak hanya menargetkan mereka yang kita asumsikan sedang mengalami depresi. Buku What Made Maddy Run menjadi pengingat yang penting bahwa terkadang kita tidak bisa dengan mudah mengidentifikasikan mereka yang paling bergumul, dan sangat penting untuk memperlengkapi para remaja agar mengenali tanda-tanda peringatan yang mungkin mengarah pada bunuh diri.

Ketika sumber daya tidak ada, sudah merupakan keharusan bagi gereja untuk mengisi kesenjangan tersebut, menyediakan jaring pengaman bagi orang-orang di dalam komunitas mereka yang sedang bergumul. Dan gereja-gereja perlu tetap terhubung dengan kaum muda dewasa dalam jemaat ketika mereka lulus sekolah menengah dan melanjutkan pendidikan mereka. Seperti yang dicatat Fagan dalam buku What Made Maddy Run, ini adalah waktu yang penting bagi kaum muda dewasa, dan keterhubungan yang otentik dengan orang-orang, baik di rumah maupun di tempat lain, adalah vital.

Saya berbicara dengan putra-putra saya tentang kematian remaja yang terjadi di kampung halaman kami, dan mereka mulai memahami beratnya gangguan mental, serta bagaimana menjangkau teman sebaya mereka yang sedang bergumul. Saya bersyukur atas kampanye “Kamu Berharga” yang dilakukan Wolff, karena kampanye ini telah membangkitkan kesadaran di kampung halaman saya, dan saya sangat yakin jika anak-anak laki-laki saya membutuhkan bantuan, mereka akan menemukan sumber daya yang cukup dan komunitas gereja yang penuh kasih untuk mendukung mereka. Saya juga bersyukur bahwa gereja-gereja lokal lainnya yang mengubah pembicaraan tentang bunuh diri. Gereja Red Hills Newberg bahkan telah membuat komponen utama dari pernyataan misinya bahwa “tidak apa-apa untuk tidak baik-baik saja” dan sedang melakukan pelayanan intensional yang diperlukan untuk menjangkau mereka yang menderita.

Ketika remaja yang merasa putus asa dibombardir dengan berjuta gambaran yang memberi tahu mereka bahwa semua orang tidak apa-apa, inilah jenis pesan yang perlu mereka dengar. Buku yang ditulis Fagan, What Made Maddy Run, menjelaskan hal ini. Jadi, karena buku Fagan juga menginformasikan pemahaman saya tentang gangguan mental, maka saya berencana menjadikan buku What Made Maddy Run sebagai bagian rutin dari seminar tahun pertama yang saya ajar setiap tahun. Sama seperti terhadap remaja lainnya, saya ingin para mahasiswa yang mulai studi di Universitas George Fox menyadari bahwa mereka berharga. Ini adalah pesan yang perlu mereka dengar, tidak hanya sekali atau dua kali, tetapi berulang kali.

Melanie Springer Mock adalah profesor bahasa Inggris di Universitas George Fox dan penulis dan editor lima buku, termasuk Worthy: Finding Yourself in a World Expecting Someone Else (Diterbitkan Herald Press, April 2018). Esai dan ulasannya telah muncul di antara lain di The Nation, The Chronicle of Higher Education, Adoptive Families, dan Mennonite World Review. Dia dan suami serta putranya tinggal di Dundee, Oregon.

Diterjemahkan oleh: Helen Emely

[ This article is also available in English and Português. See all of our Indonesian (Bahasa Indonesia) coverage. ]