Ketika orang-orang yang mengaku sahabat-sahabat Allah meninggalkan para pelayan Kristus, hal itu pasti disertai dengan keadaan-keadaan yang sangat memberatkan. Nasihat yang baik dan persekutuan yang telah mereka alami bersama, kini menjadi terganggu—rasa saling percaya menjadi hancur—para pihak yang terlibat pun terpapar oleh pencobaan-pencobaan yang tidak biasa, yang membuat sulit untuk mempertahankan roh pengampunan yang dimanifestasikan oleh sang rasul kudus itu ketika semua orang meninggalkannya: “Aku berdoa semoga Tuhan tidak menanggungkannya ke atas mereka.” - Lemuel Haynes, penulis buku The Suffering, Support, and Reward of Faithful Ministers.

Lemuel Haynes adalah tokoh sejarah yang mungkin belum pernah Anda dengar, tetapi Anda harus mendengarkannya. Dengan ukuran apa pun, hidupnya sangat luar biasa. Haynes, yang lahir pada tahun 1753, adalah seorang pelayan yang terikat kontrak sejak masa kecilnya, seorang veteran Revolusi Amerika, dan pria kulit hitam pertama di Amerika Serikat yang ditahbiskan untuk pelayanan gerejawi. Dikenal dengan pemikirannya yang tajam dan kecerdasannya yang tangkas, Haynes adalah seorang pengkhotbah dan abolisionis yang hebat. Dengan teologi Calvinisnya, ia menyatakan bahwa Allah memiliki kedaulatan terencana untuk mengakhiri perbudakan dan menyatukan segala ras. Kehidupan Haynes sama sekali tidak mudah, dan pelayanannya di sebuah gereja yang dipimpinnya selama 30 tahun berakhir dengan pengusiran dirinya. Kami berbicara kepada pengkhotbah dan penulis Jared C. Wilson tentang bagaimana warisan Haynes telah mengilhami dia—dan mengajarkannya untuk memandang kesulitan pelayanan di dalam terang kekekalan.

Saya harus mengakui bahwa saya tidak tahu siapa Haynes sampai saya membaca sebuah artikel tentang dia baru-baru ini. Bagaimana Anda berjumpa dengannya?

Ketika saya menggembalakan di Vermont, saya melakukan riset tentang sejarah daerah itu, dan saya tidak sengaja mengetahui tentang dia. Haynes bukan berasal dari Vermont, tetapi ia menggembalakan sebuah gereja di Rutland Barat selama 30 tahun. Saya berada sekitar lima mil dari tempat di mana ia berkhotbah. Jadi ketika itu saya sedang mencari tahu tentang sejarah gereja Vermont, dan ia adalah seorang tokoh yang menonjol di sana. Tetapi ketika saya mulai membaca kisahnya, saya pikir seharusnya ia lebih dikenal di dalam sejarah gereja Amerika. Ia adalah orang Afrika-Amerika pertama yang ditahbiskan oleh sebuah lembaga keagamaan di Amerika dan pendeta kulit hitam pertama dari jemaat yang kebanyakan berkulit putih. Pada masa kini pun hal seperti itu langka. Terlebih lagi pada masa itu, hal demikian tidak pernah terdengar.

Anda menulis, “Saya punya seorang teman yang pernah berkata ‘jatuh cinta pada orang mati.’ Hayneslah orangnya.” Mengapa Anda merasakan daya tarik khusus ini terhadap Haynes?

Salah satu alasannya adalah karena penggembalaannya yang setia. Ia adalah seorang pecinta teologi Jonathan Edwards, jadi ia berada dalam tradisi Puritan Amerika. Ia sangat dipengaruhi dengan kebangunan-kebangunan rohani; ia mengutip Edwards dan George Whitefield dalam khotbah terakhirnya kepada jemaat di Rutland Barat. Ia menganut teologi tersebut, dan ia adalah seorang gembala yang setia. Biografi susbstantif pertama tentang dirinya, yang ditulis oleh Timothy Mather Cooley, penuh dengan anekdot-anekdot yang luar biasa, yang memberikan gambaran tentang hal-hal yang dilakukan dan dikatakan Haynes. Ia sangat lucu; ia memiliki kecerdasan seorang Spurgeon. Saya senang bahwa ia adalah seseorang yang berpikiran politis namun tetap menjaga hal tersebut dari khotbah mimbarnya. Ia memiliki teologi yang sangat kaya. Ia berkhotbah seperti Edwards, poin di dalam poin. Dan tidak seperti Edwards, yang memiliki momok perbudakan pada dirinya, Haynes memiliki reputasi yang baik. Orang-orang memiliki kesan yang baik tentang dirinya. Keluarganya mencintai dia. Ia tidak perlu melakukan perubahan apa pun pada karakternya.

Article continues below

Buletin-buletin gratis

Buletin-buletin lainnya

Namun hidupnya bukanlah tanpa kontroversi. Ia mengalami beberapa konflik di West Parish Church di Rutland, Vermont. Bisakah Anda memberitahu konteks khotbah terakhir Haynes kepada jemaat tersebut?

Kita tidak tahu persis apa yang menyebabkan pengunduran diri/pemecatan dirinya. Alasan dia terpaksa keluar tidak sepenuhnya jelas. Di depan umum ia mengaitkannya dengan semacam kehidupan yang tidak berguna dalam jangka waktu yang lama. Adapula isu disiplin dengan jemaatnya, dan ada konflik berkepanjangan dengan salah seorang diakennya. Seorang sejarawan mencatat adanya perubahan selera politik. Jadi ada indikasi bahwa gaya pelayanan dan politiknya tidak populer lagi. Ada kemungkinan rasisme juga berperan. Kepada beberapa temannya, ia menyebutkan secara pribadi bahwa rasisme turut berperan dalam pemecatannya. Namun ia tidak menyebutkan hal tersebut dalam khotbahnya.

Hal-hal apa saja yang paling memilukan yang dikatakan Haynes dalam khotbahnya?

Ia mengkhotbahkannya pada bulan Mei 1818, namun hal tersebut tidak diterbitkan sampai bertahun-tahun kemudian, sehingga kemungkinan ada sedikit modifikasi. Separuh dari khotbahnya adalah penjelasan langsung dari Kisah Para Rasul 20:24, di mana Paulus berbicara tentang menyelesaikan pelayanannya. Ia menggunakan ayat tersebut untuk berbicara tentang seperti apa pelayan yang setia itu. Judul khotbahnya adalah “The Suffering, Support, and Reward of Faithful Ministers.” Ia mengatakan bahwa menjadi seorang pendeta berarti berada dalam penderitaan dan konflik. Kira-kira setengah dari khotbahnya sudah ia terapkan dalam pelayanannya sendiri dan ia juga memberikan nasihat perpisahan. Khotbah tersebut hampir menyerupai kesimpulan catatan kinerja pelayanannya.

Saya membaca khotbah terakhir Edwards di Northampton, dan jika ia terluka—dan memang ia terluka—ia tidak menunjukkannya. Tetapi Haynes berbeda. Ia menyebutkan bahwa pemecatannya bukan karena ketidaksetiaannya melainkan karena orang lain yang menyebabkannya. Ini menjadi contoh yang baik dari seorang pendeta yang mengatasi masalah dan konflik di depan umum tanpa mendendam. Ia peduli dengan jiwa mereka—misalnya, ia berkata, “Orang yang tidak menghargai berharganya jiwa-jiwa, dan yang tidak terpengaruh dengan situasi bahaya mereka, tidak memenuhi syarat untuk sebuah jabatan suci”—dan ia mengarahkan mereka kepada anugerah dan janji akan surga.

Pada dasarnya ia mengatakan bahwa semua ini akan diselesaikan pada Hari Terakhir. Dan ia mengatakan hal-hal seperti, “Kalian yang mengantuk pada saat saya berkhotbah akan sepenuhnya terbangun.” Ini sangat luar biasa. Ia tidak terdengar seperti orang yang kepahitan. Perkataannya terdengar seperti seseorang yang mau mengatasi keadaannya tanpa rasa takut dan mengarahkan mereka pada kekekalan.

Mari kita bicara tentang bagaimana keteladanannya telah menolong Anda. Bagaimana Anda akan menggembalakan orang-orang yang melukai Anda?

Seringkali orang-orang memperlakukan Anda dengan buruk atau menyebabkan terjadinya konflik, tetapi mereka tidak akan secara langsung mendatangimu. Anda mendengar mereka mengatakan berbagai hal tentangmu. Dorongan hati secara penggembalaan adalah berusaha untuk memahami hal tersebut. Seringkali hal itu tidak ada hubungannya dengan Anda. Bisa saja terkait hal yang lain. Karena itu saya akan berusaha mencari tahu lebih dalam untuk melihat apakah saya bisa mengatasi masalah yang sebenarnya. Namun ada saat di mana hal itu menjadi lebih sulit karena seseorang telah berdosa terhadap Anda—dan mereka tidak mau bertobat. Pada satu tempat yang pernah saya gembalakan, hal tersebut bahkan menjadi lebih sulit karena kami belum membuat peraturan tentang disiplin gereja. Saya masih mewarisi peraturan-peraturan yang lama. Jadi ketika ada orang-orang yang bermasalah dengan kami, saya tidak punya jalan untuk meminta pertanggungjawaban mereka. Saya harus bertahan terhadap beberapa orang tertentu dan berdoa agar hati mereka diubahkan. Hal itu sulit. Saya merasa saya telah melakukan semua yang bisa saya lakukan. Saya tidak boleh membiarkan sikap mereka mempengaruhi cara berpikir saya tentang keseluruhan gereja.

Article continues below

Saya harus terus mengingatkan diri saya sendiri bahwa melakukan pelayanan dengan setia seringkali akan menimbulkan konflik. Akan tetapi saya juga harus ingat bahwa saya tidak berada di sana sebagai humas. Saya tidak sedang berusaha menyenangkan orang-orang yang memilih saya. Audiens utama saya adalah Tuhan. Menjelang akhir dari khotbah terakhirnya di jemaat Rutland Barat, Haynes mengatakan, “Alasan yang membuat para pelayan Kristus terlibat dalam pelayanan, akan dapat menggairahkan mereka untuk bertekun dalam kesetiaan dan pengabdian pada pelayanan mereka. Demi kepentingan yang berharga inilah maka segala sesuatu diciptakan, dan inilah yang menjadi alasan dari Allah yang disembah dalam tiga pribadi itu; yang untuknya sang Penebus mulia itu menumpahkan darah-Nya yang berharga, dan yang sekarang melakukan pembelaan.” Jika saya ingin menjadi setia pada Kitab Suci dan mengimplikasikannya dalam kehidupan kami, maka ini akan sangat bertentangan dengan sikap yang hanya menyenangkan orang lain saja. Saya tidak boleh mengizinkan emosi saya diatur oleh orang lain.

Hal yang paling menyakitkan bagi saya bukanlah orang-orang yang tidak menyukai saya, melainkan orang-orang yang tidak mendukung saya. Mereka pasif. Saya berusaha berpikir hal yang baik tentang mereka. Tetapi itulah hal yang paling sulit—mayoritas yang pasif, termasuk sesama pemimpin yang melindungi diri mereka sendiri. Ketika berbicara secara pribadi mereka sangat mendukung, tetapi kemudian ketika mereka berada dalam sebuah pertemuan di mana saya ditentang habis-habisan, mereka hanya duduk diam berpangku tangan. Hal itu lebih menyakitkan daripada apa pun juga.

Apakah ada titik di mana seorang pendeta yang berkata, “Cukup sudah”?

Ya. Mencoba menarik suatu garis yang tegas mungkin merupakan masalah ketidakpuasan dan intuisi pastoral. Anda harus mempertimbangkan dampaknya terhadap keluargamu. Anda juga harus ingat bahwa peduli terhadap orang yang melukaimu memerlukan suatu koreksi. Tidaklah benar mengadopsi kepribadian bagai seorang martir dan berkata, “Tidak apa-apa.” Dalam arti tertentu, Anda membiarkan mereka berbuat dosa.

Penyesalan saya yang terbesar dari penggembalaan saya yang terakhir adalah karena menunggu terlalu lama dan tidak cukup tegas atau konfrontatif. Pada satu pertemuan tahunan, orang-orang mengecam dan memunculkan berbagai hal. Mereka mencoba melihat hal mana yang akan melukai saya. Biasanya saya mencoba menjawab pertanyaan mereka dengan tenang dan lembut. Atau saya hanya diam saja. Tetapi pada akhirnya seseorang mengatakan sesuatu seperti, “Orang-orang terluka dan tidak didengarkan.”

Ketika saya duduk di sana, saya memikirkan tentang gosip dan kritik anonim yang telah saya alami selama berbulan-bulan. Saya memikirkan tentang beberapa wanita tertentu yang dulunya teman istri saya kemudian berhenti bergaul dengannya tanpa penjelasan apapun, sekalipun mereka sudah ditanya. Saya memikirkan tentang wanita yang telah memanipulasi beberapa orang untuk menentang istri saya. Sudah cukup bagi saya. Saya mengambil mikrofon dan berkata, “Semua orang yang ada di sini telah didengarkan kecuali saya.”

Article continues below

Saya berkata, “Keluarga saya telah dilukai oleh orang-orang di gereja ini. Jika Anda ingin berbicara tentang orang-orang yang terluka dan tidak didengarkan, masukkan saya ke dalam daftar tersebut.” Setelah bertahun-tahun kemudian saya kembali mengingat ke belakang, saya bertanya-tanya apakah saya seharusnya melakukan hal tersebut lebih cepat? Saya pikir itu bisa mencegah beberapa hal. Hal tersebut tidak benar-benar membuat perbedaan di antara mereka yang berbalik menentang saya; kalaupun ada, itu mungkin hanya akan membuat mereka menjadi semakin berani. Butuh beberapa tahun bagi saya untuk memutuskan apakah saya telah melakukan hal yang benar, namun saya putuskan bahwa saya telah melakukan yang benar. Pada titik tertentu, membiarkan orang-orang menindas Anda bukanlah hal yang mulia. Ini akan membuat orang bebas untuk berdosa.

Pada hari Minggu terakhir saya di gereja itu, saya berjumpa dengan seseorang yang telah sangat melukai saya dan istri. Saya telah melakukan semua yang bisa saya lakukan untuk memohon pada mereka. Saya telah menemui mereka bersama penatua yang lainnya, namun mereka hanya terus melanjutkan kampanye untuk menentang saya. Saya tidak pernah bertindak tegas kepada mereka. Saya membiarkan mereka memperlakukan saya seperti kotoran. Di hari Minggu terakhir saya, kami ada acara perpisahan. Mereka datang dan berkata, “Kami berharap Anda baik-baik saja.” Saya berkata, “Saya tidak mempercayai kalian.” Mereka perlu mendengar bahwa mereka telah sangat melukai saya. Saya merasa mereka ingin cuci tangan dan berpura-pura bahwa mereka tidak pernah memperlakukan saya dengan buruk, dan saya tidak ingin mengikuti permainan mereka. Ada saatnya ketika Anda harus mengatakan, “Cukup sudah.” Bukan dengan cara mendendam. Tetapi jika Anda peduli dengan jiwa orang-orang, bahkan termasuk mereka yang telah melukaimu, Anda harus memberi tahu mereka untuk berhenti berbuat dosa.

Sulit untuk tahu kapan waktu yang tepat untuk melakukannya. Anda harus mengajukan pertanyaan diagnostik: Apakah pelayanan utama saya untuk melayani Tuhan atau orang-orang? Seringkali hal tersebut berjalan bersamaan, dan hal itu sangat baik. Tetapi terkadang jika Anda berkhotbah atau memimpin dengan cara tertentu, maka itu akan menyebabkan terjadinya masalah. Dan yang saya maksudkan bukanlah menjadi seorang perundung atau penguasa atau mengambil keuntungan dari orang-orang. Jelas itu salah, dan orang-orang harus keberatan dengan hal tersebut! Namun ada hal aneh yang terjadi di gereja-gereja di mana orang-orang merohanikan percekcokan dan kekecewaan mereka. Pada titik tertentu, para pendeta harus memutuskan apakah mereka akan melakukan hal yang benar atau yang populer, yaitu hal-hal yang melindungi diri mereka sendiri. Saat itulah Anda menyadari apakah Anda seorang pendeta atau hanya seorang karyawan. Jika Anda takut akan Tuhan, maka Anda tidak akan terlalu mengkhawatirkan tentang apa yang akan terjadi jika Anda lebih memprioritaskan keluarga Anda atau mengambil waktu untuk berlibur, atau memiliki batasan-batasan yang sehat. Namun hal-hal tersebut akan diuji.

Bagaimana tindakan dan kata-kata Haynes telah mempengaruhi pemahaman Anda tentang pelayanan?

Tindakan dan kata-kata tersebut tentu saja telah memperkuat skala kekekalan. Tindakan dan kata-kata dia mengingatkan saya tentang supranaturalitas dari iman Kristen, dan, terlebih lagi, akan pelayanan Kristen. Segala sesuatu yang Haynes khotbahkan membawa perasaan agung akan kemuliaan Allah dan akan betapa pentingnya kekekalan. Setiap momen berjaga-jaga dibandingkan atau dikontraskan dengan Hari Terakhir. Saya juga diingatkan untuk hidup dan bergereja sedemikian rupa sehingga ketika saya harus mempertanggungjawabkan kehidupan saya, saya tidak akan merasa malu. Pada akhirnya, semua luka atau ketidakadilan, Tuhan akan memperhitungkannya. Haynes mengingatkan saya tentang kesetiaan dalam melewati segala pasang surutkehidupan yang terjadi. Akan tetapi dampak terbesar dari Haynes adalah ia mengingatkan saya tentang bagaimana pelayanan berurusan dengan pengelolaan sumber daya kekekalan secara berhati-hati, yang harus kita perhatikan, bahkan dengan keprihatinan terhadap konteks terdekat kita.

Drew Dyck adalah editor yang berkontribusi bagi CT Pastor dan penulis Your Future Self Will Thank You: Secrets to Self-Control from the Bible and Brain Science (Moody, 2019).

-

[ This article is also available in English and español. See all of our Indonesian (Bahasa Indonesia) coverage. ]