Catatan editor: CT berkomitmen untuk melayani gereja secara global dengan menyajikan tulisan-tulisan pilihan dalam bahasa Indonesia (40+).

Minggu lalu, paramedis datang untuk tetangga saya yang berusia lanjut yang tinggal di seberang jalan ketika anak-anak saya dan saya menyaksikan tanpa daya dari jendela depan kami. Mereka mengenakan masker dan mengikat gaun biru panjang masing-masing dengan tertutup rapat. "Mengapa truk pemadam kebakaran ada di sini juga?" anak laki-laki saya bertanya.

"Kurasa itu selalu datang ketika ambulans dipanggil," kataku, berusaha menjadi berguna padahal sebenarnya aku merasa tidak berguna.

Dengan situasi di mana lebih dari setengah dunia berada di bawah perintah tinggal di rumah, banyak dari kita mengalami perasaan tidak berdaya dalam menghadapi penderitaan orang lain. Dalam kondisi normal, akan ada makanan yang dibuat dan kunjungan ke rumah sakit. Tetapi saat ini bukanlah hari-hari yang normal.

Namun, kita bukannya tidak berdaya. Bahkan tidak mendekatinya sedikitpun. Salah satu hal paling efektif yang dapat kita lakukan untuk tetangga kita di seluruh dunia adalah bertelut dengan lutut kita dan meraih kepada Tuhan, sumber pertolongan itu sendiri.

Saya menulis “20 Doa untuk didoakan Selama Pandemi Ini” untuk mengingatkan kita bahwa Tuhan adalah seperti yang Dia katakan: "Lihatlah sekarang bahwa Aku, Akulah Dia! Tidak ada Allah kecuali Aku” (Ul. 32:39).

Dalam minggu-minggu sejak penerbitan artikel itu, orang-orang di seluruh dunia telah membacanya, mendoakannya (kemungkinan), dan juga membagikan doa-doa itu dalam jumlah yang besar. Jumlah itu memberikan sebuah penghargaan kepada bagaimana gereja bersama-sama ...

Subscriber access only You have reached the end of this Article Preview

To continue reading, subscribe now. Subscribers have full digital access.