Catatan editor: Versi sebelumnya menyiratkan bahwa orang tidak boleh bernyanyi selama pertemuan. Sarannya adalah mengenakan masker saat bernyanyi atau berbicara. Lihat tabel yang diperbarui untuk info lebih lanjut.

Empat bulan terakhir telah menjadi periode yang luar biasa bagi dunia kita. Penyebaran virus corona baru, COVID-19, meledak melanda seluruh dunia. Di baliknya adalah gambar ruang UGD yang penuh sesak, pasien ICU yang menggunakan ventilator, dan keluarga yang berduka karena kehilangan orang yang mereka cintai. Untuk membatasi penyebaran virus ini, sebagian besar pemerintah harus menerapkan perintah tinggal di rumah dengan ketat. Tindakan yang sama sekali bukan basa-basi ini diperlukan karena banyak negara tidak siap untuk penyebaran virus yang cepat ini. Jika tidak ada yang dilakukan, maka infeksi yang meningkat pesat ini akan menjadi prahara bagi sistem perawatan kesehatan dan kematian akan meningkat dengan cepat.

Selama periode ini, gereja-gereja di seluruh negara telah menutup pintu gereja mereka untuk ibadah dan pelayanan langsung. Berbagai upaya tindakan pencegahan ini, pada awalnya mungkin kita tidak bisa paham bagaimana bisa membatasi penyebaran COVID-19 Tetapi saya yakin bahwa ini telah mencegah banyak infeksi dan kematian yang akan terjadi di antara jemaat dan keluarga serta teman-teman mereka.

Setelah enam minggu atau lebih dari perintah tinggal di rumah, klaim pengangguran menumpuk, orang-orang menjadi gelisah di rumah mereka, dan aspirasi yang semakin menuntut pemerintah untuk melonggarkan pembatasan mereka.

Meskipun para ahli kesehatan masyarakat memperingatkan bahwa negara tersebut kurang dalam pengujian, pelacakan kontak sentuhan langsung dan karantina yang diperlukan untuk menjaga pandemi tetap terkendali, ...

Subscriber access only You have reached the end of this Article Preview

To continue reading, subscribe now. Subscribers have full digital access.